
Sejumlah seniman, pedagang, dan warga dari berbagai komunitas di Kota Bandung membentuk Aliansi Bandung Ngagoak (ABN), sebuah gerakan yang menggunakan seni, diskusi, dan jurnalisme warga untuk menyuarakan keresahan publik terhadap ketimpangan sosial serta persoalan keadilan. Gerakan tersebut diwujudkan melalui Aksi Estetik yang digelar secara berkala di Kebun Seni Kreativitas Budaya Kota Bandung. ABN telah menggelar Aksi Estetik pertama pada Sabtu (29/8), disusul Aksi Estetik kedua pada Minggu (13/9) lalu.
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah komunitas seni, antara lain Kebun Seni, Manjing Manjang, Komunitas SituSeni, Roemah Alibi, Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ), hingga para pedagang Pasar Ciroyom yang tergabung dalam Himbar Buana Jaya. Aliansi ini lahir dari kegelisahan terhadap kondisi sosial yang dinilai semakin memperlihatkan kesenjangan antara kelompok masyarakat kaya dan miskin. Melalui pendekatan seni dan ekspresi budaya, ABN ingin menghidupkan kembali tradisi kritis Kota Bandung yang sejak awal abad ke-20 dikenal sebagai ruang tumbuh bagi intelektual, nasionalis, seniman, dan penggerak perubahan sosial.
“Bandung memiliki sejarah panjang sebagai tempat lahirnya gagasan-gagasan kebangsaan, pendidikan, pers, dan kebudayaan. Semangat kritis itu perlu dirawat dan dihidupkan kembali,” demikian semangat yang diusung dalam gerakan tersebut.
Seni sebagai Ruang Kritik Sosial
ABN memandang seni bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan aspirasi publik secara terbuka, kreatif, dan etis. Dalam sejarahnya, Bandung memiliki sejumlah tonggak penting pergerakan nasional, mulai dari perjuangan pendidikan perempuan Raden Dewi Sartika, perkembangan pers bumiputera melalui Medan Prijaji, dinamika politik Indische Partij, hingga aktivitas intelektual Soekarno dan Algemeene Studieclub. Tradisi kritik kebudayaan juga pernah mengemuka melalui peristiwa Pengadilan Puisi pada 1974 yang mengguncang dunia sastra Indonesia.
Warisan tersebut menjadi inspirasi ABN untuk menghadirkan ruang ekspresi yang menghubungkan persoalan masyarakat dengan seni pertunjukan. Komunitas yang terlibat dalam Aksi Estetik antara lain Kebun Seni Kreativitas Budaya, Sanggar SituSeni, Manjing Manjang, Komunitas Penyanyi Jalanan Kota Bandung, Rumah Alibi, Musik Akustik Kampungan, Komunitas Kuma Aing Anying, Lab Tubuh Bubat 212, Laskar Panggung Bandung, Teater Bel, serta pedagang Pasar Ciroyom.
Kritik Dua Arah
Aksi Estetik ABN diarahkan kepada dua pihak, yakni publik dan pemerintah. Gerakan ini mendorong masyarakat memahami kembali hak dan kewajibannya sebagai warga negara, sekaligus mengingatkan pemerintah agar menjalankan amanat Pancasila dan konstitusi. ABN menilai kritik terhadap kebijakan publik merupakan bagian dari hak sekaligus tanggung jawab masyarakat dalam kehidupan demokrasi.
“Konstitusi adalah suara rakyat. Ketika pengelolaan negara keluar dari koridor konstitusi, masyarakat memiliki hak untuk mengingatkan melalui cara-cara yang masuk akal dan etis,” demikian posisi yang disampaikan aliansi tersebut.
Tiga Rumpun Kegiatan
Ke depan, aktivitas ABN akan dikembangkan dalam tiga rumpun utama, yakni aksi, workshop, dan jurnalisme warga. Aksi lapangan akan dilaksanakan secara periodik setiap bulan di Kebun Seni Kreativitas Budaya. Selain pertunjukan seni, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan orasi dan pernyataan sikap. Rumpun kedua berupa workshop yang berfokus pada pengembangan potensi manusia melalui logika, etika, dan estetika. Kegiatan dapat mencakup apresiasi serta ekspresi seni seperti puisi, musik, rupa, dan tari.
Sementara itu, jurnalisme warga diarahkan untuk mendorong masyarakat mendokumentasikan dan menyampaikan berbagai persoalan di lingkungan mereka melalui media sosial. ABN juga menilai literasi digital dan jurnalistik perlu diperkuat agar masyarakat memahami batasan hukum dalam publikasi, termasuk ketentuan terkait Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, penyiaran, serta penggunaan media sosial. Melalui kanal-kanal digital, warga diharapkan mampu menyampaikan informasi secara bertanggung jawab sekaligus mengurangi penyebaran hoaks.
Ketua Yayasan Kebun Seni Kreativitas Budaya, R. Dany Ahmad, menyambut kehadiran ABN sebagai bagian dari upaya memperluas ruang ekspresi masyarakat.
“Masyarakat dapat menyuarakan keresahannya di sini dalam bentuk kesenian. Namun, hindari fitnah dan mendiskreditkan siapapun, termasuk tokoh politik. Semua yang dipentaskan dan disuarakan harus berada dalam koridor estetika, etika, dan logika,” ungkapnya.
Bagi ABN, seni diharapkan menjadi ruang perjumpaan warga untuk menyampaikan keresahan, membangun kesadaran, dan merawat tradisi kritis Bandung tanpa kehilangan tanggung jawab sosial.(H-2)
