
Upaya pencarian, pertolongan, dan penanganan insiden KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, terus diperkuat melalui koordinasi berbagai unsur di lapangan.
Selain pencarian korban, penanganan lokasi bangkai kapal juga menjadi perhatian untuk memastikan keselamatan pelayaran dan mencegah munculnya bahaya navigasi bagi kapal yang melintas.
Dukungan terhadap operasi tersebut turut datang dari Hasnur Group melalui bantuan kemanusiaan dan operasional bagi keluarga korban, relawan, serta petugas yang terlibat dalam penanganan insiden. Dukungan itu mencakup pengerahan armada untuk membawa perlengkapan yang dibutuhkan dalam operasi gabungan.
Melalui PT Hasnur Internasional Shipping Tbk (HIS), bagian dari SBU Logistik Hasnur Group, TB Hasnur 09 dikerahkan pada Rabu (16/9/2026) untuk membawa berbagai kebutuhan operasional dan perlengkapan penanda lokasi bangkai kapal. Armada tersebut bergerak dari Tambatan Jayanti menuju Pelabuhan Trisakti, Kalimantan Selatan, sebelum melanjutkan perjalanan menuju perairan Taboneo.
Sejumlah perlengkapan yang dibawa antara lain drum oli, lampu warna merah, bendera Merah Putih, segel 20 mm, tali sir 2 inch, serta berbagai perlengkapan lain untuk mendukung pemasangan penanda di lokasi bangkai KM Virgo Transport 8.
Perlengkapan tersebut selanjutnya diserahkan kepada kru KRI I Gusti Ngurah Rai-332 untuk mendukung operasi bersama unsur SAR gabungan dan instansi terkait. Pemasangan marker di titik tenggelam menjadi bagian penting dalam penanganan lokasi karena keberadaan bangkai kapal perlu ditandai agar tidak menimbulkan risiko bagi keselamatan navigasi.
Komandan Lanal Banjarmasin Kolonel Laut (P) Galih Nurna Putra mengatakan kebutuhan perlengkapan penanda lokasi disampaikan oleh KRI I Gusti Ngurah Rai-332. Dukungan armada diperlukan untuk mengirimkan pelampung penanda atau marker dari lokasi kecelakaan ke titik tenggelamnya KM Virgo.
“Kami meminta bantuan TB Hasnur 09 karena ada permintaan dari KRI I Gusti Ngurah Rai untuk mengirimkan pelampung penanda atau marker dari KM Virgo Transport 8 supaya tidak menjadi bahaya navigasi,” ujar Galih dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Selain mengangkut perlengkapan penanda, TB Hasnur 09 juga memobilisasi satu unit life raft milik KM Virgo Transport 8 yang sebelumnya ditemukan oleh KRI I Gusti Ngurah Rai-332. Life raft tersebut dibawa dari lokasi kejadian untuk diserahkan kepada Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banjarmasin.
Armada tersebut juga membawa kebutuhan pendukung bagi personel di lapangan, termasuk kantong jenazah dan logistik makanan. Langkah ini menunjukkan penanganan kecelakaan pelayaran tidak hanya berkaitan dengan pencarian korban, tetapi juga membutuhkan dukungan logistik dan pengamanan lokasi secara terintegrasi.
Presiden Direktur Hasnur Group Jayanti Sari mengatakan pihaknya berupaya memberikan dukungan sesuai kebutuhan di lapangan dengan tetap berkoordinasi bersama pihak-pihak yang menangani insiden.“Kami turut prihatin atas musibah yang terjadi dan berupaya memberikan dukungan yang dapat kami lakukan. Kami berharap bantuan ini dapat membantu kebutuhan keluarga korban dan pihak-pihak yang masih terlibat dalam proses penanganan di lapangan,” ujar Jayanti.
Dukungan kemanusiaan juga disalurkan melalui UPZ Bakti Bersama Hasnur Group berupa makanan siap saji, roti, dan air minum bagi keluarga korban, relawan, serta petugas. Bantuan tersebut diserahkan oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin pada Selasa (15/9/2026).
Penguatan koordinasi menjadi bagian penting dalam penanganan insiden karena proses pencarian dan evakuasi membutuhkan keterlibatan banyak unsur, mulai dari TNI Angkatan Laut, Basarnas, hingga unsur pendukung lainnya. Hasnur Group menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait mengikuti perkembangan kebutuhan operasi di lapangan.
Sebelumnya, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Banjarmasin I Putu Sudayana menyampaikan berbagai benda yang ditemukan dan berkaitan dengan kecelakaan perlu dievakuasi dari lokasi pencarian ke darat. Langkah tersebut dilakukan agar area pencarian dapat lebih fokus pada upaya menemukan korban sekaligus mengurangi potensi temuan berulang di lokasi kejadian.(H-2)
