Harga Bawang Merah di Pidie Aceh Anjlok, Petani Keluhkan Kerugian dan Monopoli
Petani bawang merah di Kcamatan Simpang Tiga sedang memanen.(Dok. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

PETANI bawang merah di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, tengah menghadapi masa sulit. Dalam dua pekan terakhir, harga jual hasil produksi panen mereka terus merosot tajam, yang mengakibatkan para petani mengalami kerugian besar hingga tidak mampu mengembalikan modal usaha.

Kondisi ini diperparah dengan penurunan volume produksi pada musim panen kali ini. Selain kuantitas yang berkurang, kualitas bawang merah yang dihasilkan juga dinilai lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Rincian Penurunan Harga

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia pada Rabu (16/9), di sentra produksi Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, penurunan harga terjadi pada seluruh tingkatan kualitas bawang:

  • Kualitas Super: Turun dari Rp22.000/kg menjadi Rp20.000/kg dalam dua pekan terakhir.
  • Kualitas Standar (Sedang): Turun dari Rp20.000/kg menjadi Rp18.000/kg.

Penurunan ini terasa sangat drastis jika dibandingkan dengan harga pada bulan lalu yang masih bertahan di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000/kg. Memasuki awal musim panen di wilayah Simpang Tiga, Kembang Tanjung, Batee, Peukan Baro, dan Kecamatan Pidie, harga terus merosot hingga ke titik terendah saat ini.

Dugaan Monopoli Tengkulak

Abdullah, salah seorang petani di Kecamatan Simpang Tiga, mengungkapkan bahwa petani tidak memiliki daya tawar dalam menentukan harga. Ia menduga adanya kesepakatan sepihak di tingkat pengepul.

“Itu harga bawang baru panen kami jual ke tengkulak. Tengkulak dan penampung sepertinya sudah sepakat menentukan harga beli. Kami petani tidak dapat melakukan apa-apa, sudah seperti sistem monopoli,” tutur Abdullah.

Desakan Intervensi Pemerintah

Para petani berharap Pemerintah Kabupaten Pidie maupun Pemerintah Provinsi Aceh segera turun tangan untuk menstabilkan harga pasar. Intervensi pemerintah dinilai krusial untuk memutus rantai permainan harga oleh pedagang besar yang merugikan produsen di tingkat bawah.

“Kami tidak berdaya dan terus jadi bulan-bulanan. Kehadiran pemerintah untuk mengintervensi pasar kami kira sangat penting agar harga kembali stabil,” pungkas Ikhwan, petani lainnya di wilayah tersebut. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *