Kemenpar: Penutupan Bromo tidak Menurunkan Minat Wisatawan
Forum “Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif” (Ngoprek) di Jatim Park 3, Kota Batu, Selasa (15/9/2026).(MI/HO)

KEAMANAN kini menjadi indikator utama yang menentukan keberlanjutan sebuah destinasi wisata. Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kepariwisataan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Fadjar Hutomo, menegaskan bahwa minat wisatawan untuk berkunjung kembali sangat bergantung pada persepsi mereka terhadap aspek keselamatan di lokasi tersebut.

“Pariwisata itu adalah tentang persepsi. Ketika sebuah destinasi wisata alam dipersepsikan aman, minat wisatawan untuk datang kembali akan tinggi. Sebaliknya, jika dipersepsikan tidak aman karena bencana yang tidak tertangani, kecelakaan, atau kriminalitas, hal itu akan menjadi hambatan (barrier) bagi pariwisata berkelanjutan,” ujar Fadjar dalam forum “Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif” (Ngoprek) di Jatim Park 3, Kota Batu, Selasa (15/9/2026).

Fadjar mencontohkan Taman Nasional Gunung Bromo yang tetap diminati meski sempat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, kesadaran wisatawan terhadap kelestarian Bromo tetap tinggi karena destinasi tersebut masih dipersepsikan aman untuk dikunjungi. Namun, ia mengingatkan bahwa faktor kelalaian manusia tetap menjadi ancaman serius.

Faktor Risiko Kebakaran Hutan di Area Wisata

Kemenpar mengidentifikasi beberapa penyebab utama kebakaran di area savana yang sering kali dipicu oleh aktivitas manusia dan kondisi alam ekstrem:






Kategori Faktor Penyebab Spesifik
Kelalaian Manusia Penggunaan flare (prewedding), puntung rokok, sisa api unggun yang tidak padam.
Faktor Alam Musim kemarau, suhu panas ekstrem, dan angin kencang yang mempercepat rambatan api.

“Intinya, tourism is not only about beauty, but also safety. Ibu Menteri Pariwisata telah menetapkan keselamatan pariwisata sebagai salah satu program prioritas,” tambah Fadjar.

Inovasi dan Kesiapsiagaan di Jawa Timur Park Group

Dalam forum bertema “Safety Tourism, Sustainable Future” tersebut, Direktur Jawa Timur Park Group, Rio Imam Sendjojo, memaparkan perjalanan 25 tahun grup tersebut dalam menggabungkan edukasi, hiburan, dan konservasi. Pada September ini, Jatim Park akan memperluas jangkauannya dengan membuka Mega Science Center dan Budaya.

“Ini akan menjadi ruang pembelajaran sains seperti kimia, fisika, hingga robotika yang bisa berinteraksi seperti manusia,” jelas Rio.

Terkait aspek keamanan fisik, Direktur Jatim Park 3, Suryo Widodo, memastikan bahwa meski dikelilingi pegunungan seperti Bromo, Arjuna, dan Welirang, wilayah Kota Batu secara historis aman dari dampak erupsi besar. Namun, pihaknya tetap menjalankan SOP ketat melalui simulasi kebencanaan periodik sesuai standar Disnaker.

Manajemen Krisis di Era Digital

Menutup diskusi, Manager Marketing & PR Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto, menekankan pentingnya menjaga persepsi positif melalui pemantauan media sosial secara real-time. Ia membentuk tim khusus yang bekerja 24 jam untuk memonitor keluhan, saran, hingga berita bohong (hoax).

“Krisis komunikasi di media sosial sangat luar biasa. Kami memiliki early warning system untuk memantau setiap komentar. Jika ada informasi negatif, tim langsung mengambil tindakan segera agar tidak merusak citra destinasi,” pungkas Titik. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *