Terkuak! Keterlambatan Kereta Api Akibat Cuaca Luar Angkasa Terjadi pada 1848, Bukan 1841
Exeter pada tahun 1844-1850. Lukisan karya W. Hake ini menunjukkan pembukaan Jalur Kereta Api Bristol dan Exeter seperti yang terlihat dari Bukit Exwick.(W. Hake, Royal Albert Memorial Museum & Art Gallery/Wikimedia Commons)

SEBUAH tim peneliti internasional berhasil memecahkan misteri sejarah berusia 178 tahun mengenai salah satu contoh awal dampak cuaca luar angkasa terhadap teknologi di Bumi. Riset terbaru mengungkapkan bahwa peristiwa terkenal keterlambatan kereta api akibat badai Matahari ternyata terjadi pada tahun 1848, bukan tahun 1841 seperti yang tercatat selama ini.

Insiden tersebut berawal dari laporan di jurnal ilmiah Nature terbitan tahun 1871. Laporan itu menyebutkan bahwa gangguan magnetik yang sangat kuat telah memengaruhi jaringan telegraf listrik sinyal kereta api, sehingga menunda keberangkatan kereta pukul 22.05 dari Exeter, Inggris, selama 16 menit.

Selama bertahun-tahun, catatan itu diyakini sebagai kasus pertama dalam sejarah di mana aktivitas geomagnetik Matahari mengganggu infrastruktur teknologi manusia. Namun, ketika tim ahli yang dipimpin oleh Jim Wild, profesor fisika ruang angkasa dari Lancaster University sekaligus Presiden Royal Astronomical Society, memeriksa kembali arsip bersejarah tersebut, mereka menemukan kejanggalan.

“Keterlambatan kereta Exeter adalah kisah yang sangat menarik karena berada tepat pada titik di mana teknologi yang baru muncul mulai berhadapan dengan realitas lingkungan luar angkasa,” kata Jim Wild.

Salah Ketik di Jurnal Ilmiah Berusia Abad

Kejanggalan utama terungkap saat peneliti memeriksa tanggal insiden. Catatan awal di jurnal Nature mencantumkan bahwa gangguan listrik tersebut terjadi pada 18 Oktober 1841. Namun, tim peneliti menemukan fakta bahwa jalur kereta api Exeter–Starcross yang disebutkan dalam laporan tersebut baru resmi dibuka pada tahun 1846—lima tahun setelah dugaan peristiwa itu terjadi.

Mencium adanya kesalahan, para peneliti melakukan penelusuran layaknya detektif. Mereka menggabungkan berbagai data historis, mulai dari jadwal perjalanan kereta api lama, surat kabar kuno, catatan pengamatan Matahari, laporan kemunculan aurora, hingga rekaman data geomagnetik yang telah didigitalisasi.

“Penelitian kami memiliki nuansa kisah detektif—merangkai berbagai catatan arsip untuk memahami lebih baik peristiwa cuaca luar angkasa yang parah secara historis,” ujar Mike Hapgood, pakar cuaca luar angkasa dari laboratorium nasional Inggris, RAL Space.

Hasil analisis menyimpulkan bahwa peristiwa keterlambatan kereta tersebut sebenarnya terjadi pada 18 Oktober 1848. Pada tanggal itu, badai geomagnetik kuat tercatat di Greenwich Magnetic Observatory, bersamaan dengan penampakan aurora di wilayah Inggris dan pengamatan kelompok bintik Matahari (sunspot) besar dari Durham. Para ilmuwan menduga tanggal pada jurnal Nature tahun 1871 tersebut murni merupakan kesalahan ketik (typo).

Mengubah Urutan Sejarah Gangguan Teknologi

Koreksi tanggal ini mengubah catatan kronologi sejarah astronomi. Dengan pergeseran waktu ke tahun 1848, peristiwa kereta Exeter tidak lagi memegang predikat sebagai gangguan teknologi akibat cuaca luar angkasa yang paling awal dicatat.

Posisi pertama kini dipegang oleh insiden gangguan sistem telegraf di jaringan Midland Railway pada Maret 1847. Meski demikian, peristiwa di Exeter tetap menjadi salah satu contoh awal paling nyata mengenai dampak badai Matahari terhadap infrastruktur penting.

“Meskipun ini berarti peristiwa tersebut bukan dampak cuaca luar angkasa terawal yang tercatat, hal ini tetap menjadi salah satu contoh jelas pertama dari aktivitas Matahari yang mengganggu infrastruktur kritis,” tutur Wild.

Penelitian ini juga menjadi pengingat penting bagi peradaban modern. Mike Hapgood menekankan bahwa meskipun kemampuan pemantauan cuaca luar angkasa saat ini jauh lebih maju dibandingkan era 1800-an, teknologi modern yang diandalkan manusia hari ini justru jauh lebih rentan terhadap ancaman badai Matahari.

Hasil penelitian ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Space Weather yang diterbitkan oleh American Geophysical Union. (Space/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *