Kampus ini Gelar Edukasi Bencana dan Kesehatan Bagi Santri
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Universitas Tarumanagara (Untar) membekali para santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Surabaya, dengan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi serta kesehatan fisik dan mental. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) tersebut diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untar bekerja sama dengan Direktorat Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (DRIPM Unusa). Dalam keterangan resminya hari ini Untar melalui Kepala LPPM Dr. Hetty Karunia Tunjungsari, menyatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membawa pengetahuan yang dikembangkan di kampus agar dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kami berharap para santri semakin siap menghadapi bencana sekaligus memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan fisik dan mental,” kata Kepala LPPM Untar Dr. Hetty Karunia Tunjungsari.

Dalam kegiatan itu, LPPM Untar memberikan edukasi mengenai kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi di lingkungan pesantren. Santri diperkenalkan dengan potensi bahaya gempa, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga benda-benda di sekitar yang berpotensi menyebabkan cedera. Mereka juga diajak memahami prinsip Drop, Cover, and Hold On, yakni merunduk, melindungi kepala dan tubuh, serta bertahan hingga guncangan berhenti.

Selain itu, dibahas pula mengenai kesehatan fisik dan mental. Pembahasan mencakup kebersihan diri dan lingkungan, pencegahan penyakit kulit seperti skabies, pola makan bergizi, aktivitas fisik, tidur yang sehat, pengelolaan emosi, serta pencegahan perundungan. Santri juga didorong untuk berani mencari bantuan ketika menghadapi persoalan. Sebagai bagian dari edukasi kesehatan, Untar membagikan buku Scabies – Edukasi & Eradikasi kepada sejumlah santri. Buku karya Fakultas Kedokteran Untar yang disusun Dr. dr. Sukmawati Tansil Tan, Sp.DVE itu membahas penularan, gejala, pencegahan, hingga penanganan skabies.

Kegiatan juga diikuti jajaran LPPM Untar serta perwakilan DRIPM dan Fakultas Kedokteran Unusa. Diskusi berlangsung interaktif dengan pertanyaan santri seputar langkah menyelamatkan diri saat gempa, perundungan, keluhan gatal, pola tidur, hingga pemilihan makanan bergizi. Sejumlah peserta turut membagikan pengalaman yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari di pesantren.

Rektor Untar Prof. Dr. Amad Sudiro, S.H., M.H. mengatakan, pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu cara perguruan tinggi menghadirkan manfaat ilmu pengetahuan secara langsung.

“Pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi harus dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi masyarakat. Melalui pengabdian seperti ini, Untar ingin turut membangun masyarakat yang lebih tangguh dan sehat,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah Untar menuju perguruan tinggi yang semakin berdampak dengan menghadirkan pengetahuan dan kepakaran sivitas akademika untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *