
MEMASUKI bangku perguruan tinggi menjadi awal bagi mahasiswa untuk tidak hanya beradaptasi dengan rutinitas akademik, tetapi juga mengenali kemampuan diri dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan di luar kampus.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), membuat mahasiswa perlu memiliki bekal yang lebih luas dari sekadar kemampuan teknis. Kemampuan berpikir kritis, membangun hubungan dengan orang lain, menjaga keseimbangan aktivitas, serta memahami minat dan potensi pribadi menjadi sejumlah hal yang perlu dikembangkan sejak awal masa kuliah. Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian penutupan UPH Festival 2026 melalui tema Called: Why Am I Here?
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu mengajak mahasiswa baru merefleksikan tujuan pribadi, mengeksplorasi kemampuan, sekaligus melihat bagaimana pengetahuan yang diperoleh selama kuliah dapat memberi manfaat bagi lingkungan.
Rangkaian kegiatan juga diarahkan untuk membantu mahasiswa memahami perubahan yang terjadi di dunia dan mulai memikirkan arah pengembangan diri selama menjalani pendidikan tinggi. Hari terakhir kegiatan diawali Founder’s 5K Run yang mempertemukan mahasiswa baru dengan dosen, staf, serta pimpinan universitas.
Ribuan peserta mengikuti lari sejauh lima kilometer di kawasan Lippo Village dengan pesan Finish What You Start. Pesan tersebut menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalani sesuatu yang telah dimulai. Aktivitas fisik juga ditempatkan sebagai salah satu cara menjaga keseimbangan di tengah tuntutan perkuliahan.
Executive Director of UPH Sport, Head Coach Tim Basket Putra Eagles UPH sekaligus Sports Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) Stephen Lester Metcalfe mengatakan, aktivitas fisik dapat membantu mahasiswa menjaga keseimbangan selama menjalani kehidupan kampus.
“Ketika kita menggunakan tubuh kita untuk bergerak dan beraktivitas secara fisik, kita tidak hanya merayakan rancangan tersebut, tetapi juga merayakan Sang Pencipta,” ujar pria yang akrab disapa Coach Met tersebut.
Ia juga meminta mahasiswa membangun kebiasaan baik sejak awal masa perkuliahan dan menjalani setiap hari dengan sungguh-sungguh. “Pesan saya kepada mahasiswa baru adalah jalani setiap hari dengan sungguh-sungguh dan maksimal. Bangunlah di pagi hari dengan rasa syukur, kemudian mulailah harimu dan jalani hari itu sebaik-baiknya,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru Program Studi International Teachers College (ITC) Limson Axel Wijaya menjadi peserta pertama yang mencapai garis finis dengan waktu 29 menit. Ia melihat kegiatan lari tersebut sebagai pengingat untuk memperhatikan kesehatan sekaligus memiliki target menyelesaikan pendidikan.
“Founder’s 5K Run menjadi pengingat bagi saya untuk selalu menjaga kesehatan. Ke depan, saya juga berharap bisa menyelesaikan studi hingga lulus,” ujarnya.
Peserta lainnya, mahasiswa baru asal Tiongkok dari Program Studi ITC UPH Alice Luo menjadi finisher pertama untuk kategori perempuan dengan waktu 34 menit. Menurutnya, kehidupan di perguruan tinggi tidak seharusnya hanya berpusat pada kegiatan akademik.
“Saya ingin menjaga keseimbangan dalam kehidupan sebagai mahasiswa, bukan hanya fokus pada akademik, tetapi juga berolahraga dan membangun relasi dengan teman-teman,” kata Alice.
AI dan Dunia Kerja
Selain keseimbangan hidup, mahasiswa baru diperkenalkan pada perubahan yang dibawa perkembangan AI terhadap cara belajar dan bekerja.
Dalam sesi AI Will Change Everything. Will It Change You?, Senior Advisor YPPH Niel Nielson membahas perkembangan AI yang semakin banyak digunakan dalam pemrosesan data, analisis, prediksi, hingga otomatisasi. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi berbagai bidang pekerjaan, termasuk sektor medis, hukum, teknik, dan bisnis.
Kondisi itu membuat mahasiswa perlu memikirkan kemampuan apa yang harus dibangun selama masa kuliah agar mampu beradaptasi dengan perubahan profesi. Namun, Nielson menekankan bahwa kemampuan menggunakan teknologi bukan satu-satunya bekal yang dibutuhkan. Kemampuan menilai informasi secara kritis, mengambil keputusan, memahami konsekuensi dari pemanfaatan teknologi, serta membangun hubungan dengan sesama manusia tetap memiliki peran penting.
“AI dapat menghitung, memprediksi, dan memproses data dengan sangat cepat. Namun, AI tidak dapat mengasihi, tidak dapat membedakan kebaikan dan kejahatan secara moral, serta tidak dapat berkorban bagi orang lain. AI adalah pelayan yang sangat baik, tetapi jangan pernah menjadikannya sebagai tuan atas hidup Anda,” tutur Nielson.
Pesan tersebut menempatkan AI sebagai teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu berbagai pekerjaan, tetapi tidak menggantikan kemampuan manusia dalam mempertimbangkan nilai, keputusan, dan hubungan sosial.
Mencari Arah
Persoalan mengenai masa depan mahasiswa kemudian berlanjut dalam sesi Called & Life That Matters yang disampaikan Associate Vice President Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH Andry M. Panjaitan. Andry mengajak mahasiswa memandang masa kuliah sebagai kesempatan untuk mencoba berbagai hal.
Pilihan kegiatan tidak terbatas pada ruang kelas, tetapi juga dapat mencakup organisasi, penelitian, kompetisi, kegiatan kreatif, komunitas, maupun pengalaman memimpin. Berbagai pengalaman tersebut dapat menjadi cara untuk mengenali minat sekaligus mengetahui kemampuan yang ingin dikembangkan. Karena itu, pilihan karier tidak harus langsung ditentukan sejak awal memasuki perguruan tinggi.
Menurut Andry, perjalanan mahasiswa justru dapat menjadi proses untuk menemukan kekuatan dan ketertarikan melalui berbagai pengalaman. Ia juga mengingatkan agar pencapaian akademik ataupun keberhasilan dalam organisasi tidak dijadikan satu-satunya patokan keberhasilan.
“Jangan pernah takut bermimpi besar di kampus ini. Bergabunglah dalam organisasi, tekuni riset, ciptakan karya seni dan teknologi, ikut kompetisi, dan bangun persahabatan sejati,” katanya.
Lima mahasiswa senior kemudian berbagi pengalaman mengenai perjalanan mereka selama menempuh pendidikan. Pengalaman yang dibagikan mencakup kegagalan, keterlibatan dalam organisasi, pembangunan komunitas, hingga pencapaian dalam berbagai bidang. Cerita tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan mahasiswa dalam menentukan arah tidak selalu berlangsung lurus.
Kegagalan maupun pengalaman di luar rencana dapat menjadi bagian dari proses untuk memahami diri dan menentukan langkah berikutnya.
Awal Perjalanan
Rangkaian orientasi kemudian ditutup melalui Imago Dei Celebration Concert and Fireworks. Penampilan UPH Choir dan Fakultas Musik menjadi bagian dari acara penutup yang diikuti mahasiswa baru. Konsep Imago Dei yang digunakan dalam kegiatan tersebut menekankan pandangan mengenai nilai dan potensi manusia yang perlu dikembangkan.
Dalam kehidupan mahasiswa, gagasan tersebut diterjemahkan melalui proses mengenali diri, mengasah kemampuan, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Rektor UPH Jonathan L. Parapak berharap mahasiswa baru dapat menjalani tahun akademik 2026/2027 dengan baik.
“Saya berdoa dan berharap UPH Festival ini menjadi berkat, sehingga kalian siap memasuki Tahun Akademik 2026/2027 dan sukses dalam studi. Selamat datang, warga UPH yang baru,” ujar Jonathan.
Berakhirnya rangkaian orientasi tersebut sekaligus menjadi awal bagi mahasiswa untuk menjalani kehidupan perkuliahan yang sesungguhnya. Mereka akan berhadapan dengan tuntutan akademik, perkembangan teknologi, aktivitas organisasi, serta beragam pilihan yang dapat memengaruhi perjalanan mereka selama berada di perguruan tinggi.
Perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja membuat kesiapan mahasiswa tidak cukup hanya dibangun melalui penguasaan kompetensi teknis. Kemampuan beradaptasi, bekerja bersama orang lain, berkomunikasi, berpikir kritis, dan mempertimbangkan dampak dari sebuah keputusan juga semakin dibutuhkan. (E-4)
