
KETUA Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski), dr. Hanny Nilasari, menekankan bahwa infeksi human papillomavirus (HPV) tidak hanya menular melalui hubungan intim. Virus HPV ini memiliki rute transmisi yang luas, baik secara kontak seksual maupun non-seksual.
“Transmisi virus HPV bisa melalui kontak langsung dan juga kontak seksual. Artinya kontak kulit dengan kulit dan juga kontak seksual,” ujar Dr. dr. Hanny Nilasari, dalam sebuah acara kesehatan di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Gejala dan Karakteristik Infeksi HPV
Infeksi HPV dapat bermanifestasi menjadi penyakit kulit dan kelamin, salah satunya kutil kelamin. Kondisi ini ditandai dengan munculnya daging tumbuh yang menyerupai kembang kol pada area genital. Gejala spesifiknya meliputi:
- Benjolan berukuran kecil yang sering kali sulit terlihat.
- Tekstur permukaan yang bervariasi, mulai dari halus hingga kasar.
- Umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri.
- Muncul secara tunggal atau berkelompok.
Hanny memperingatkan agar masyarakat waspada jika benjolan tersebut tidak kunjung hilang, justru membesar, bertambah banyak, atau mengalami perubahan seperti mudah berdarah dan terinfeksi. I
Penularan di Area Mulut dan Tenggorokan
Selain area genital, HPV juga kerap ditemukan di area mulut. Gejalanya serupa, yakni muncul benjolan dengan permukaan halus atau berbenjol-benjol. Namun, infeksi di area ini sering diabaikan oleh pasien meskipun dapat memicu gejala sistemik.
“Bisa menimbulkan suatu gejala misalnya perubahan suara atau sakit tenggorokan. Ini kadang yang diabaikan oleh pasien,” tutur Hanny.
Rute Penularan Seksual dan Non-Seksual
Secara rinci, Hanny menjelaskan bahwa transmisi seksual mencakup hubungan senggama (genito-genital), penggunaan tangan (manogenital), maupun aktivitas seksual secara oral.
Sementara itu, penularan non-seksual atau ekstra genital dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, di antaranya:
- Persalinan: Penularan dari ibu ke bayi saat proses persalinan normal (pervaginam).
- Fomite: Perantara objek atau benda yang terkontaminasi virus.
- Inokulasi Mandiri: Perpindahan virus dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain oleh diri sendiri.
- Infeksi Nosokomial: Risiko infeksi yang terjadi di lingkungan rumah sakit.
Faktor Risiko dan Penurunan Imunitas
Risiko infeksi HPV berkembang menjadi lesi yang lebih berat sangat berkaitan dengan kondisi sistem kekebalan tubuh, baik secara lokal maupun sistemik. Hanny menyebutkan bahwa faktor usia memengaruhi penurunan imunitas yang membuat virus lebih mudah melekat pada sel kulit dan memicu perubahan sel.
Selain faktor imunitas, gaya hidup juga memegang peranan penting. “Merokok, konsumsi alkohol, seks oral, dan banyaknya hubungan seks sesama jenis merupakan faktor risiko yang banyak teridentifikasi pada pasien dengan infeksi HPV,” pungkasnya. (Ant/H-3)
