BRIN: Kearifan Lokal Penting untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati
Seekor Orangutan Sumatra (Pongo Abelii) liar berada di atas pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada dalam kawasan ekosistem leuser Bukit Lawang, Bohorok, Langkat, Sumatera Utara, Jumat (21/11/2025).(ANTARA/Syifa Yulinnas)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal dengan ilmu pengetahuan modern untuk memperkuat konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Pendekatan tersebut dinilai dapat mendukung pelestarian alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN Asep Hidayat mengatakan, pengetahuan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan.

“Etnobiologi harus menjadi jembatan antara pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan modern untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati,” ujar Asep, Jumat (16/10).

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN Y. Purwanto menjelaskan, etnobiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan manusia dengan keanekaragaman hayati dalam konteks sosial dan budaya. Kajian tersebut mencakup cara masyarakat mengenali, memanfaatkan, mengelola, serta mewariskan pengetahuan tentang sumber daya alam.

Purwanto mencontohkan penelitiannya terhadap sistem pertanian tradisional masyarakat Dani di Wamena, Papua, pada 1990. Praktik budidaya ubi jalar menunjukkan bahwa sistem pertanian tradisional tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga mencerminkan pengetahuan masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan.

Namun, pengetahuan lokal menghadapi ancaman akibat perubahan sosial, modernisasi, berkurangnya praktik tradisional, serta hilangnya habitat. Kondisi tersebut berpotensi memutus pewarisan pengetahuan antargenerasi.

“Perubahan sosial, modernisasi, berkurangnya praktik tradisional, serta hilangnya habitat dapat memutus pewarisan pengetahuan antargenerasi,” kata Purwanto.

Karena itu, ia menekankan perlunya pendokumentasian dan penelitian pengetahuan lokal secara sistematis dengan tetap menghormati hak masyarakat, memperhatikan sensitivitas budaya, serta memastikan pembagian manfaat yang adil.

Purwanto mengatakan, salah satu pendekatan yang dapat menghubungkan konservasi dengan kehidupan masyarakat ialah pengelolaan cagar biosfer melalui program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO.

“Cagar biosfer bukan sekadar kawasan konservasi, melainkan model pengelolaan yang menyelaraskan perlindungan keanekaragaman hayati, pembangunan sosial ekonomi berkelanjutan, serta penelitian, pendidikan, dan pemantauan,” ujarnya.

Indonesia memiliki 21 cagar biosfer yang diakui dalam jaringan cagar biosfer dunia UNESCO. Kawasan tersebut mencakup Cibodas, Komodo, Tanjung Puting, Lore Lindu, Siberut, Gunung Leuser, Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Wakatobi, Bromo Tengger Semeru-Arjuno, hingga Berbak-Sembilang.

Cagar biosfer tersebut mewakili beragam ekosistem, mulai dari hutan hujan tropis, lahan gambut, pegunungan, dan lahan basah hingga kawasan pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil.

Selain melindungi keanekaragaman hayati, kawasan tersebut dapat menjadi model pengelolaan wilayah yang mengintegrasikan konservasi, pembangunan berkelanjutan, pelibatan masyarakat, serta dukungan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Dalam upaya memperkuat konservasi, BRIN dapat berkontribusi melalui penelitian keanekaragaman hayati, dokumentasi pengetahuan lokal, pengembangan sistem pemantauan, serta penyediaan bukti ilmiah untuk mendukung kebijakan dan pengelolaan kawasan.

Purwanto menilai integrasi data keanekaragaman hayati, sosial budaya, dan kondisi ekosistem dapat membantu pengelola memahami perubahan lingkungan serta menentukan prioritas konservasi.

Menurutnya, teknologi digital dan sistem informasi geospasial dapat memperkuat pemantauan lingkungan. Namun, pemanfaatan teknologi perlu dilengkapi pengetahuan masyarakat yang memahami kondisi lingkungan setempat.

Hasil penelitian juga dapat menjadi dasar pengembangan bioekonomi berkelanjutan, antara lain melalui produk berbasis sumber daya hayati, pertanian ramah lingkungan, dan kegiatan wisata yang mendukung edukasi serta konservasi.

Pengembangan tersebut, kata Purwanto, harus memperhatikan daya dukung ekosistem, hak masyarakat, dan pembagian manfaat yang adil. Dengan demikian, kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern dapat saling melengkapi dalam upaya menjaga kelestarian alam Indonesia.(H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *