
KETUA Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, memberikan peringatan keras kepada masyarakat untuk tidak meremehkan kondisi berat badan berlebih. Ia menekankan pentingnya menangani obesitas sedini mungkin tanpa harus menunggu munculnya gejala penyakit atau komplikasi serius.
“Yang penting adalah jangan menunggu sakit dulu. Jangan berat badan bertambah terus, lalu kolesterol naik, dan kolesterolnya hanya dijadikan bahan obrolan dengan dalih ‘gue nggak kerasa apa-apa’. Itu akan menyebabkan penanganannya menjadi terlambat,” ujar Erwin dalam peluncuran Kampanye Edukasi Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta, dikutip Selasa(18/8).
Metode AMATI, UKUR, dan BERTINDAK
Sebagai langkah preventif, dr. Erwin menyarankan masyarakat untuk menerapkan tiga langkah sederhana guna mengenali risiko obesitas secara mandiri, yaitu AMATI, UKUR, dan BERTINDAK.
Langkah pertama, AMATI, dilakukan dengan memperhatikan perubahan fisik pada tubuh. Salah satu indikator paling mudah adalah kenyamanan saat berpakaian. Jika pakaian, terutama di bagian lengan dan perut, mulai terasa sempit atau kancing baju sulit dikaitkan, hal tersebut merupakan sinyal waspada yang harus diperhatikan.
Langkah kedua adalah UKUR. Masyarakat diimbau untuk melakukan pengukuran berat badan dan lingkar perut secara berkala. Pengukuran lingkar perut menjadi krusial untuk mendeteksi obesitas sentral, yang berkaitan erat dengan risiko penyakit metabolik.
| Kategori | Batas Lingkar Perut (Waspada Obesitas Sentral) |
|---|---|
| Laki-laki | ≥ 90 sentimeter |
| Perempuan | ≥ 80 sentimeter |
Standar ukuran ini juga sejalan dengan petunjuk teknis Cek Kesehatan Gratis dari Kementerian Kesehatan. Kondisi obesitas sentral memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Pentingnya Intervensi Dini
Langkah terakhir adalah BERTINDAK. Setelah menyadari adanya risiko melalui pengamatan dan pengukuran, masyarakat diharapkan segera melakukan perubahan gaya hidup. Hal ini mencakup mencari informasi kesehatan dari sumber terpercaya hingga berkonsultasi dengan tenaga medis profesional jika diperlukan.
Erwin juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis guna memantau kondisi tekanan darah dan kadar gula darah. Terlebih, pada tahun 2026, program ini akan difokuskan pada tindak lanjut hasil pemeriksaan, sehingga masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan akan mendapatkan penanganan yang berkelanjutan.
“Setelah itu semua, maka Anda harus bertindak,” tegas Erwin.
Ia kembali mengingatkan bahwa penanganan obesitas tidak boleh ditunda hingga muncul penyakit penyerta seperti diabetes atau gangguan metabolik lainnya. (Ant/Z-1)
