
MENTERI Haji dan Umrah (Menhaj) Mochammad Irfan Yusuf mengajak seluruh jajaran Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memaknai kemerdekaan melalui kerja nyata, pengabdian, dan integritas.
Irfan menilai perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari kontribusi para ulama dan kiai. Banyak di antara mereka, kata dia, juga telah menunaikan ibadah haji. Semangat perjuangan dan pengabdian para pendahulu itu perlu diteruskan melalui penyelenggaraan ibadah haji yang semakin baik serta menjunjung tinggi integritas.
“Hari ini kita berusaha menerapkan apa yang telah dilakukan para pendahulu. Mereka mewariskan kemerdekaan kepada kita. Kita juga harus meninggalkan jejak dan mewariskan haji yang berintegritas,” kata Menhaj dalam keterangannya, Selasa (18/8).
Ia kemudian mengutip pesan KH M. Hasyim Asy’ari bahwa kehidupan merupakan sebuah cerita. Karena itu, setiap orang perlu memastikan cerita yang ditulis dalam kehidupannya menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi generasi berikutnya.
“Saat ini kita sedang menulis cerita itu di Kementerian Haji,” ujarnya.
Menurut Irfan, kemerdekaan Indonesia merupakan buah perjuangan sekaligus rahmat Allah SWT. Oleh sebab itu, rasa syukur atas kemerdekaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui perayaan, tetapi juga harus diterjemahkan menjadi kerja yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan amanat konstitusi agar kekayaan dan sumber daya yang dimiliki Indonesia dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Irfan mengakui perjalanan Kemenhaj pada tahun pertama tidak lepas dari berbagai tantangan. Namun, ia meminta seluruh jajaran tetap menjalankan amanah dengan kesungguhan, kerja keras, serta berserah diri kepada Allah SWT.
“Seorang pemimpin tidak selalu memilih tempat yang nyaman. Pengabdian tidak selalu berada dalam situasi yang mudah. Di mana pun kita ditempatkan, kita harus tetap berdakwah dan mengabdi dengan niat yang tulus,” tuturnya.
Selain menekankan pentingnya etos pengabdian, Irfan meminta jajaran Kemenhaj membangun organisasi yang sehat dengan integritas sebagai landasan utama dalam menjalankan tugas.
Ia juga mengingatkan filosofi Jawa, “Ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining slira dumunung ana ing busana.” Menurutnya, seragam Kemenhaj bukan sekadar pakaian dinas, tetapi juga membawa nama dan kehormatan institusi. Karena itu, setiap pegawai harus menjaganya melalui sikap, ucapan, dan perilaku.
“Setelah selesai puja dan puji, mari kita kembali fokus memberikan yang terbaik untuk jemaah. Fokus kita adalah haji 2027,” tegasnya.
Irfan berharap seluruh pegawai menjadikan pekerjaan yang dilakukan saat ini sebagai bagian dari perjalanan sejarah Kemenhaj. Setiap tugas, menurutnya, harus diarahkan untuk menghasilkan warisan positif yang dapat diteruskan oleh generasi mendatang.(H-2)
