
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia saat ini didominasi oleh kondisi cuaca relatif kering. Fenomena ini terjadi seiring dengan meluasnya jangkauan musim kemarau di tanah air yang dipicu oleh dua faktor iklim utama, yakni El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Berdasarkan data pemantauan hingga Dasarian I Agustus 2026, BMKG mencatat sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 76,5% wilayah Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau. Kondisi ini berdampak signifikan pada penurunan curah hujan di berbagai daerah.
| Indikator Cuaca | Persentase Wilayah |
|---|---|
| Wilayah Masuk Musim Kemarau | 76,5% (535 ZOM) |
| Dominasi Curah Hujan Kategori Rendah | 90,79% |
| Curah Hujan di Bawah Normal | 87,28% |
BMKG memprakirakan kondisi kering ini masih akan berlanjut setidaknya hingga Dasarian I September 2026. Curah hujan secara umum diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah, berkisar antara 0-150 milimeter per dasarian.
“Curah hujan rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian, berpeluang mendominasi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua,” tulis BMKG dalam keterangan resminya, Selasa (18/8).
Potensi Hujan Lokal dan Angin Kencang
Meski kemarau meluas, BMKG menegaskan bahwa hujan masih berpotensi terjadi secara lokal di beberapa titik. Hal ini didorong oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta gelombang Rossby Ekuatorial yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.
Berikut adalah rincian wilayah yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan:
| Periode | Potensi Hujan Sedang – Sangat Lebat | Potensi Angin Kencang |
|---|---|---|
| 18 – 20 Agustus | Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, Lampung, Jabar, Kaltara, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan (Siaga) | Aceh, Jatim, Kep. Riau, Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua Barat, Sulsel, Sulut |
| 21 – 24 Agustus | Aceh, Sumbar, Kalteng, Papua Pegunungan (Siaga), Papua | Bengkulu, Riau, Banten, Jabar, Kalbar, Gorontalo, Sulteng, Sulsel, Sulbar, Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Selatan |
Imbauan dan Kewaspadaan Masyarakat
Menghadapi puncak musim kemarau, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak yang ditimbulkan, terutama cuaca panas ekstrem, kekeringan meteorologis, serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Masyarakat disarankan untuk:
- Menjaga kecukupan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi.
- Menggunakan pelindung diri atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan.
- Menghemat penggunaan air bersih secara bijak.
- Tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di area lahan gambut dan semak belukar yang mudah terbakar.
Di sisi lain, bagi wilayah yang masih mengalami hujan lokal, BMKG meminta warga tetap waspada terhadap potensi cuaca buruk mendadak seperti petir dan angin kencang yang dapat menyebabkan pohon tumbang maupun baliho roboh. (Z-1)
