
Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman kekeringan dan penurunan ketersediaan air akibat dampak fenomena El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat dampak signifikan terjadi mulai dari Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan.
Fenomena El Nino menyebabkan curah hujan berada di bawah normal, yang tidak hanya mengancam produksi pertanian, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan serta gangguan kesehatan masyarakat seperti ISPA. Menanggapi situasi ini, Pakar Hidrologi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., menekankan bahwa penanganan kekeringan harus dilakukan secara preventif, terutama saat musim hujan tiba.
Pentingnya Memanen Air Hujan
Menurut Prof. Agus, kekeringan sering kali merupakan dampak dari kelalaian dalam mengelola air pada musim hujan. “Kekeringan itu adalah dampak daripada kelalaian kita melakukan sesuatu di musim hujan. Sehingga pada musim kering bingung,” ujarnya dalam workshop Sekolah Wartawan bertajuk “Metode dan Teknologi Mitigasi Kekeringan” di Gedung Pusat UGM, Sabtu (15/8).
Ia menjelaskan bahwa kualitas air hujan sangat baik, bahkan melebihi kualitas air permukaan seperti sungai. Secara legal, air hujan kini dapat diolah menjadi air minum setelah adanya regulasi terkait keamanan dan mutu air baku. Selain itu, air hujan memiliki molekul yang lebih kecil karena belum terkontaminasi mineral lain, sehingga lebih cepat diserap oleh metabolisme tumbuhan, hewan, maupun manusia.
Teknologi dan Metode Pemanenan
Prof. Agus memaparkan beberapa metode praktis yang dapat dilakukan masyarakat dan pemerintah untuk “menabung” air:
- Revitalisasi Sumur Tua: Sumur-sumur di perkotaan yang sudah tidak digunakan dapat difungsikan kembali sebagai tempat penampungan air hujan setelah melalui proses penyaringan. Hal ini efektif menjaga cadangan air tanah dan mengurangi risiko banjir.
- Injeksi Air Hujan: Mengalirkan air dari talang rumah melalui pipa atau lubang bor langsung ke dalam tanah untuk mengisi kembali akuifer.
- Embung Desa: Mendorong setiap desa memiliki kolam tampung atau embung kecil agar air hujan tidak langsung mengalir keluar wilayah desa, melainkan meresap dan menjadi cadangan.
- Kolam Pertanian dan Perikanan: Mengembangkan kembali tradisi kolam tampung di lahan pertanian. Di Bantul, praktik ini telah berhasil digunakan untuk budi daya ikan mujair dan lele menggunakan air hujan.
Tanggung Jawab Bersama
Praktik memanen air hujan bukanlah hal baru atau tradisional yang tertinggal. Negara maju seperti Australia telah menerapkan sistem ini secara luas di wilayah perkotaan dan pedesaan. Di Indonesia, daerah kering seperti Bojonegoro juga telah mulai mengadopsi langkah serupa.
Prof. Agus juga mengingatkan sektor industri, hotel, dan perkantoran untuk berhenti bergantung sepenuhnya pada air tanah dan mulai menampung air hujan. Penggunaan air tanah secara masif oleh sektor industri turut mempercepat penurunan muka air tanah.
Saat musim kemarau tiba, masyarakat didorong untuk aktif mencari sumber air alternatif seperti mata air, sungai bawah tanah, atau membuat sumuran di sekitar aliran sungai. Namun, kunci utamanya tetap pada pengelolaan saat musim hujan.
“Orang harus berpikir hujan sama kemarau itu jadi satu kesatuan sistem. Kalau tidak ingin bermasalah pada musim kemarau, pada musim hujannya harus banyak menampung air,” pungkasnya.
