
SEKOLAH Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta kejarcita.id menggelar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Teknologi Digital Guru untuk Pembelajaran di Kelas pada Senin (12/10).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur ini diikuti oleh 140 guru dan kepala sekolah di wilayah Kota Surabaya. Pelatihan ini bertujuan memberikan penguatan kompetensi digital agar para pendidik mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.
Dosen Sekolah Pascasarjana UM sekaligus narasumber kegiatan, Dr. Chyta Anindhyta, menjelaskan bahwa teknologi bukan sekadar perangkat pendukung atau tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperkaya pengalaman belajar. Menurutnya, pemanfaatan teknologi yang tepat dapat memperluas sumber belajar, meningkatkan interaksi kelas, serta menghadirkan pembelajaran yang kontekstual.
“Perkembangan teknologi yang cepat menuntut guru tidak hanya terampil menggunakan perangkat digital, tetapi juga mampu mengintegrasikannya dengan strategi pedagogis dan tujuan pembelajaran. Guru perlu mempertimbangkan karakteristik peserta didik agar penggunaan teknologi memberikan nilai tambah,” ujar Chyta dalam keterangannya, Senin (12/10).
Menjawab Kebutuhan Strategis Guru
Chyta menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sekaligus komitmen Sekolah Pascasarjana UM untuk menjadi mitra strategis dalam pengembangan profesional pendidik. Ia menekankan pentingnya mendekatkan inovasi akademik dari kampus ke praktik pembelajaran sehari-hari di sekolah.
Kolaborasi antara UM, PT Nota Kerja Cita (kejarcita.id), dan Kemendikdasmen ini menunjukkan urgensi kerja sama lintas institusi. Dalam sinergi ini, pemerintah berperan dalam arah kebijakan, perguruan tinggi memberikan dukungan akademik-pedagogis, dan mitra pendidikan memperluas akses terhadap inovasi teknologi.
“Penguatan kompetensi digital tidak hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan guru dalam memilih, merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran berbasis teknologi. Guru tetap memegang peran utama dalam memastikan teknologi sesuai dengan kebutuhan siswa,” imbuhnya.
Antusiasme 140 peserta dalam pelatihan ini mencerminkan pentingnya pengembangan kompetensi berkelanjutan di tengah perubahan ekosistem pendidikan. Transformasi pendidikan digital dinilai membutuhkan sinergi antara kebijakan, keilmuan, inovasi, dan pengalaman praktis di lapangan.
Bagi Sekolah Pascasarjana UM, keterlibatan ini adalah bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat. Chyta berharap kesiapan guru dalam memanfaatkan teknologi secara tepat akan menjadi kunci keberhasilan transformasi digital pendidikan.
“Melalui penguatan kompetensi dan kolaborasi lintas institusi, para pendidik diharapkan semakin adaptif dan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik,” pungkasnya. (H-2)
