
KEMENTERIAN Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) resmi memulai langkah strategis dengan mengalokasikan anggaran persiapan atlet menuju Olimpiade Los Angeles 2028 sejak tahun ini. Langkah ini diambil sebagai bagian dari transformasi sistem pendanaan pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang kini dirancang secara berkelanjutan.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan bahwa anggaran untuk pesta olahraga terbesar di dunia tersebut tidak hanya tersedia untuk tahun anggaran berjalan, tetapi sudah masuk dalam perencanaan matang untuk tahun depan.
“Pada tahun ini kami sudah mulai mendapatkan anggaran untuk Olimpiade 2028. Tahun depan, dari anggaran yang sudah dikomunikasikan kepada kami, untuk Olimpiade juga sudah ada anggarannya,” ujar Erick di Kantor Kemenpora, Jakarta, Rabu (12/8).
Verifikasi Program dan Skema Pendanaan
Meski kepastian anggaran sudah ada, Erick belum merinci nominal yang dialokasikan. Kemenpora akan terlebih dahulu memanggil pengurus cabang olahraga (cabor) untuk melakukan verifikasi mendalam terkait program kerja dan kebutuhan riil masing-masing sektor.
Erick menekankan bahwa pola pendanaan berkelanjutan adalah kunci agar pembinaan atlet tidak terputus di tengah jalan. Menurutnya, persiapan menuju ajang multievent seperti SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade harus dilakukan dalam hitungan tahun, bukan musiman.
Berikut adalah poin-poin utama transformasi pendanaan pelatnas yang diterapkan Kemenpora:
| Aspek Kebijakan | Deskripsi Penerapan |
|---|---|
| Sifat Anggaran | Berkelanjutan (Multi-years), tidak terputus antar tahun anggaran. |
| Landasan Kebijakan | Arahan Presiden Prabowo Subianto dan dukungan Kementerian Keuangan. |
| Sistem Kontrol | Penerapan Key Performance Indicator (KPI) yang ketat dan terukur. |
| Target Sasaran | Spesifik berdasarkan cabang olahraga, nomor pertandingan, hingga nama atlet. |
Fokus Jangka Panjang dan KPI Ketat
Erick mengungkapkan bahwa persiapan jangka panjang ini bahkan seharusnya sudah mulai melirik Olimpiade 2032. Hal ini dilakukan agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain yang sudah menyiapkan atlet mereka dalam siklus satu dekade.
Untuk memastikan efektivitas penggunaan dana negara, Kemenpora menerapkan KPI yang sangat spesifik. Penyaluran anggaran akan bersifat targeted atau tepat sasaran. Sebagai contoh, atlet yang diproyeksikan menuju Olimpiade tetap dapat menggunakan anggaran program Olimpiade meskipun mereka sedang bertanding di level regional seperti SEA Games.
“Cabang olahraganya apa, nomornya apa, atletnya siapa. Jadi ini benar-benar targeted. Kami pastikan semuanya memiliki KPI,” tegas Erick.
Dengan skema ini, pemerintah berharap ada kepastian bagi para atlet dalam menjalani proses pembinaan, sekaligus menjamin bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan berkontribusi langsung pada pencapaian prestasi di kancah internasional. (Ant/Z-1)
