
DINAS Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, memperkuat langkah mitigasi dampak kemarau panjang dengan memetakan 200 titik lahan persawahan yang berpotensi mengalami kekeringan. Langkah antisipatif ini bertujuan memastikan kebutuhan air lahan pertanian teridentifikasi sejak dini guna menjaga produktivitas petani.
Kepala Dispangtan Purwakarta, Hadyanto Purnama, menjelaskan bahwa pemetaan wilayah rawan kekeringan harus disertai dengan pemeriksaan kondisi aktual di lapangan. Hal ini penting agar langkah penanganan yang diambil dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik para petani.
“Penanganan kekeringan perlu dilakukan sejak dini melalui pemetaan wilayah rawan, pengecekan kondisi irigasi, serta koordinasi dengan instansi yang memiliki kewenangan di bidang sumber daya air. Dengan begitu, kebutuhan petani bisa diidentifikasi dan langkah penanganannya dapat lebih tepat sasaran,” ujar Hadyanto, Senin (12/10).
Fokus Peninjauan di Kecamatan Campaka
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama adalah lahan sawah milik Kelompok Tani (Poktan) Cinta Mukti di Munjuljaya, Kecamatan Campaka. Lahan seluas kurang lebih 30 hektare tersebut ditinjau langsung oleh Tim Penanggung Jawab (PJ) LTT Kabupaten Purwakarta dari BRMP untuk mengidentifikasi kebutuhan air guna menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian.
Ketua Poktan Cinta Mukti, Atim, mengungkapkan bahwa dukungan infrastruktur sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi kekurangan air yang mulai mengancam. Salah satu kebutuhan mendesak adalah bantuan mesin pompa air.
“Dengan luas persawahan sekitar 30 hektare, keberadaan pompa air sangat penting untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman ketika pasokan dari jaringan irigasi utama tidak mencukupi,” kata Atim.
Sinergi Lintas Sektor
Selain penyediaan pompa, Dispangtan juga menyoroti pentingnya optimalisasi sumber air dan perbaikan jaringan irigasi. Peninjauan langsung di lapangan dilakukan untuk memetakan kendala teknis serta mengidentifikasi sarana pengairan yang berpotensi dimaksimalkan fungsinya.
Upaya mitigasi ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Dispangtan, BRMP Unggas, BBWS Citarum, Dinas PUTR, hingga para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat dukungan bagi sektor pertanian, mulai dari pendampingan teknis hingga pembenahan infrastruktur pengairan.
Langkah kolaboratif ini menjadi bagian krusial dalam mempertahankan produksi padi di Kabupaten Purwakarta di tengah tantangan iklim, sekaligus memastikan ketahanan pangan daerah tetap terjaga meski dalam kondisi kemarau panjang. (H-2)
