
Gerakan yang salah saat beraktivitas atau berlari dapat menyebabkan cedera serius pada lutut, salah satunya adalah cedera Ligamen Krusiat Anterior (ACL). Berdasarkan data medis, cedera ini ternyata jauh lebih rentan dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Cedera ACL merupakan kerusakan atau robekan pada ligamen lutut anterior, yaitu jaringan yang menghubungkan tulang paha bagian bawah dengan tulang kering. Gejala umum kondisi ini meliputi bunyi letupan dari lutut, pembengkakan hebat, serta rasa nyeri yang luar biasa saat penderita mencoba berdiri atau berjalan.
Laporan Sports Medicine mengungkapkan bahwa perempuan menghadapi tingkat risiko cedera ACL dua hingga delapan kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Risiko ini sangat menonjol pada atlet remaja perempuan yang aktif dalam olahraga dengan intensitas tinggi seperti sepak bola, bola basket, senam, dan lacrosse.
Tingginya risiko pada perempuan dipengaruhi oleh faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi. Salah satu faktor utama adalah kondisi anatomi lutut. Secara umum, perempuan memiliki ukuran penampang ACL yang lebih kecil dan lekukan interkondilaris yang lebih sempit, yang secara langsung meningkatkan kerentanan terhadap robekan ligamen.
Selain itu, perempuan memiliki sudut kuadrisep atau Q-angle yang lebih besar. Kondisi anatomi ini dapat meningkatkan gaya valgus pada lutut. Ditambah dengan rasio massa otot kuadrisep terhadap hamstring yang lebih tinggi, penggunaan kuadrisep saat mendarat atau mengubah arah memberikan beban yang jauh lebih besar pada ACL perempuan.
Faktor hormonal juga memegang peranan penting. Perubahan kadar estrogen selama siklus menstruasi diketahui dapat memengaruhi elastisitas ligamen, sehingga pada periode tertentu, ligamen menjadi lebih kendur dan rentan mengalami cedera saat menerima beban mendadak.
