
SEJUMLAH kota besar di Indonesia diprakirakan diguyur hujan pada hari ini, Rabu (12/8). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai potensi hujan yang dapat disertai kilat dan angin kencang akibat dampak pergerakan daerah konvergensi atmosfer.
Prakirawan BMKG, Miftah Ali, menjelaskan bahwa secara umum terbentuk daerah konvergensi yang memanjang dari pesisir barat Sumatera Utara, Riau, Samudra Hindia Selatan, Jawa Timur, Laut Sawu, Sarawak, Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara hingga Sabah, Laut Sulu, Selat Makassar, Sulawesi Tenggara hingga Sulawesi Selatan, Papua, serta perairan barat dan selatan Papua Selatan.
“Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah yang dilewati konvergensi atau konfluensi,” terang Miftah, Rabu (12/8).
Berdasarkan dinamika atmosfer tersebut, pihaknya memprakirakan sejumlah kota besar akan mengalami hujan ringan pada hari ini, yaitu wilayah Medan, Padang, Tanjung Selor, Ambon, dan Jayapura.
Sementara itu, mayoritas kota besar lainnya di Indonesia diprediksi berada dalam kondisi dominan berawan sepanjang hari ini. Wilayah tersebut meliputi Banda Aceh, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Bengkulu, Pangkal Pinang, Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Samarinda, Banjarmasin, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, Mamuju, Gorontalo, Kendari, Manado, Ternate, Manokwari, Nabire, dan Merauke.
Ancaman Kekeringan El Nino di Wilayah Selatan
Meskipun potensi hujan terdeteksi di sejumlah kota, BMKG mengingatkan bahwa fenomena iklim global masih membayangi wilayah Indonesia bagian selatan. Fenomena El Nino berstatus kuat diprediksi menyebabkan wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) semakin kering dan berlanjut hingga puncak musim kemarau pada Agustus–September 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengungkapkan bahwa kondisi iklim saat ini dipicu oleh El Nino yang berpotensi terus berkembang menjadi sangat kuat.
Selain El Nino, penguatan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga ikut memperburuk pasokan uap air di wilayah Sumatera. Kombinasi kedua fenomena tersebut mengakibatkan curah hujan menurun drastis sehingga kondisi kering kian terasa sejak Juni, Juli, hingga memasuki pertengahan Agustus. (Ant/P-4)
