BMKG: Fenomena El Nino Kurangi Intensitas Hujan di Jawa Barat Sepekan ke Depan
Lahan sawah kekeringan di Aceh.(Dok. MI)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung memprediksi fenomena El Nino masih akan memengaruhi kondisi cuaca di Jawa Barat. Fenomena ini berpotensi mengurangi intensitas curah hujan di sebagian wilayah tersebut dalam sepekan ke depan, terhitung mulai 10 hingga 16 Agustus 2026.

Kepala BMKG Bandung, Edi Wibowo, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis iklim global terbaru, indeks Niño 3.4 tercatat sebesar +2.02. Angka ini menunjukkan bahwa El Nino masih memberikan dampak signifikan terhadap pola curah hujan, tidak hanya di Jawa Barat tetapi juga di sebagian wilayah Indonesia lainnya.

“Fenomena El Nino masih berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat yang ditunjukkan oleh indeks Nino 3.4 sebesar +2.02,” ujar Edi di Bandung, Rabu (12/8).

Potensi Hujan Lokal dan Cuaca Ekstrem

Kendati intensitas hujan secara umum berkurang, BMKG menekankan bahwa potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mungkin terjadi secara lokal. Fenomena ini diprediksi muncul terutama pada waktu sore hingga malam hari di beberapa titik di Jawa Barat.

Selain itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, serta angin kencang. Cuaca ekstrem tersebut berpotensi terjadi secara lokal dengan durasi yang relatif singkat.

Rekomendasi Mitigasi dan Penghematan Air

Menyikapi kondisi ini, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah guna mengantisipasi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang yang bisa terjadi sewaktu-waktu akibat cuaca lokal yang ekstrem.

“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan memperbarui informasi cuaca resmi dari BMKG. Pahami potensi bencana di lingkungan sekitar dan segera lakukan langkah pengurangan risiko,” tegas Edi.

Edi menambahkan, langkah mitigasi sederhana dapat dimulai dari lingkungan terkini, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan saluran air dan lingkungan, serta memperkuat budaya gotong royong dalam penataan lingkungan.

Di sisi lain, mengingat dampak El Nino yang identik dengan musim kemarau, BMKG juga menghimbau masyarakat untuk mulai bijak dalam menggunakan air. Penghematan air bersih sangat diperlukan untuk memastikan ketersediaan pasokan selama periode minim hujan ini. (Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *