
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026 akan lebih baik dibandingkan kuartal II 2026 karena akan berkomunikasi lebih ketat dengan Bank Sentral untuk memastikan seluruh mesin pertumbuhan bisa berjalan.
Merespons hal itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurrahman menyebut bahwa proyeksi penguatan pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026 masih terlalu optimistis.
“Secara matematis memang mungkin terjadi, tetapi secara fundamental ruang akselerasinya semakin sempit. Risiko eksternal justru meningkat, mulai dari konflik Timur Tengah yang belum mereda, ketidakpastian perdagangan global, hingga masih tingginya suku bunga di negara maju. Kombinasi faktor tersebut berpotensi menekan ekspor, meningkatkan volatilitas nilai tukar, dan mendorong kenaikan biaya produksi domestik melalui harga energi dan logistik,” kata Rizal saat dihubungi, Senin (3/8).
Di dalam negeri, lanjut Rizal, indikator pemulihan juga belum sepenuhnya meyakinkan. Ia menyinggung PMI manufaktur Juli yang kembali ke angka 50,2, akan tetapi angka tersebut baru keluar dari fase kontraksi sehingga belum mencerminkan ekspansi yang kuat.
“Daya beli masyarakat juga belum pulih sepenuhnya, tercermin dari tren penurunan saldo tabungan rumah tangga dan konsumsi yang lebih banyak ditopang oleh pembiayaan daripada peningkatan pendapatan riil. Artinya, mesin utama pertumbuhan masih menghadapi keterbatasan,” bebernya.
Dirinya memprediksi pertumbuhan ekonomi semester II lebih realistis berada di kisaran 5,1–5,4%, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 5,2–5,4%, kecuali terdapat stimulus fiskal yang jauh lebih agresif dan percepatan investasi swasta.
“Pemerintah perlu berhati-hati dalam membangun ekspektasi. Tantangan saat ini bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan, tetapi memastikan kualitas pertumbuhan tetap terjaga melalui penguatan sektor riil, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan produktivitas agar ekonomi lebih tahan terhadap guncangan global,” pungkasnya. (E-4)
