
KETUA Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mendesak adanya evaluasi penyelenggaraan pendidikan kedokteran setelah enam dokter internship meninggal dunia.
“Kami turut berduka atas meninggalnya enam dokter magang sepanjang tahun ini. Ini bukan angka yang bisa dianggap wajar, dan menjadi peringatan keras bahwa ada yang keliru dalam penyelenggaraan pendidikan kedokteran kita, baik dari sisi keselamatan fisik maupun kesehatan mental para peserta didik,” kata Hetifah saat dihubungi, Selasa (28/7).
Ia menegaskan, tidak boleh ada dokter internship yang harus mempertaruhkan keselamatan jiwa saat menjalani pendidikan profesi. Karena itu, menurutnya, penyebab dari rangkaian kasus tersebut perlu dikaji secara komprehensif agar langkah perbaikan dapat segera dilakukan.
“Tidak boleh ada dokter magang yang harus mempertaruhkan nyawanya saat menjalani pendidikan profesi. Apa penyebabnya, ini yang perlu dikaji dan dievaluasi secara menyeluruh, mulai dari beban kerja, sistem pendampingan dan supervisi senior terhadap peserta didik, sampai mekanisme pelindungan bagi dokter magang itu sendiri,” ujarnya.
Hetifah juga mendorong seluruh pihak yang berwenang, termasuk pemerintah, institusi pendidikan kedokteran, rumah sakit pendidikan, dan organisasi profesi melakukan pembenahan sesuai kewenangan masing-masing.
Ia menekankan bahwa keselamatan dan kesehatan para dokter internship harus menjadi prioritas dalam proses pendidikan.
“Pihak-pihak terkait sesuai kewenangannya perlu segera berbenah agar kejadian serupa tidak terus berulang, dan pendidikan kedokteran benar-benar menjadi ruang belajar yang aman dan manusiawi, bukan tempat yang justru membahayakan mereka yang sedang dididik untuk menyelamatkan nyawa orang lain,” tuturnya. (H-4)
