
DOKTER spesialis anak subspesialis endokrinologi, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), mengingatkan masyarakat untuk tidak terjebak dalam tren konsumsi protein tinggi yang berlebihan pada anak-anak. Dalam sebuah temu media daring di Jakarta, yang dikutip Jumat (24/7), Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menekankan bahwa asupan protein yang melampaui kebutuhan tubuh justru berisiko merusak fungsi ginjal.
Peringatan ini muncul sebagai respons terhadap tren pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan kadar protein sangat tinggi. Banyak orangtua meyakini bahwa asupan protein masif dapat membuat anak tumbuh tinggi secara instan, terinspirasi dari postur atlet luar negeri seperti pemain sepak bola Norwegia, Erling Haaland.
Prof. Aman membagikan pengalamannya saat menangani pasien anak yang mengonsumsi protein hingga 400–500 gram per hari, baik melalui makanan padat seperti steak maupun suplemen tambahan. Akibat pola makan ekstrem tersebut, pasien mengalami gangguan serius pada fungsi ginjal mereka.
Anak dengan kondisi berikut dilarang menjalani diet tinggi protein/kalori tanpa pengawasan medis ketat:
- Lahir prematur.
- Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
- Mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan (IUGR).
Kesesuaian Genetik dan Pola Makan
Menurut Prof. Aman, masyarakat Indonesia secara genetik memiliki pola konsumsi yang berbeda dengan penduduk di Eropa atau Afrika yang secara turun-temurun terbiasa dengan asupan protein tinggi. Ia menilai pola makan nenek moyang Indonesia yang didominasi karbohidrat sebenarnya masih sangat relevan.
Ia mencontohkan negara-negara Asia lainnya seperti Tiongkok, Jepang, Vietnam, dan Singapura. Meski masyarakatnya tetap mengonsumsi nasi dan mi sebagai sumber karbohidrat utama, mereka tetap bisa memiliki postur tubuh yang tinggi dengan gizi yang seimbang.
| Komponen Gizi | Fungsi & Catatan Medis |
|---|---|
| Protein | Harus sesuai kebutuhan individu; kelebihan berisiko pada ginjal. |
| Karbohidrat | Sumber energi utama yang tetap relevan bagi genetik masyarakat Asia. |
| Lemak | Penting untuk perkembangan otak, pubertas, dan pembentukan hormon. |
Waspadai Protein Shake untuk Atlet Cilik
Selain MPASI, tren penggunaan protein shake di kalangan anak-anak yang bercita-cita menjadi atlet juga menjadi sorotan. Prof. Aman menegaskan bahwa kebutuhan protein setiap anak bersifat unik dan harus dihitung secara cermat oleh dokter gizi atau dietisien.
“Pastikan terlebih dahulu apakah kondisi anak memang normal atau memiliki faktor risiko tertentu. Terapinya ada pada kita semua, salah satunya melalui edukasi mengenai pola makan yang benar,” ujarnya.
Sebagai penutup, ia menekankan bahwa genetik manusia tidak berubah dalam ratusan tahun. Oleh karena itu, pola makan seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan biologis tubuh, bukan sekadar mengikuti tren diet yang sedang populer di media sosial. (Ant/Z-1)
