
PENCARIAN kerja yang berkepanjangan tidak hanya menguras waktu, uang, dan energi para pelamar. Bagi banyak orang, proses perburuan posisi ini memberikan dampak yang menghancurkan bagi kesehatan mental mereka.
Meskipun tingkat pengangguran di Amerika Serikat secara historis tergolong rendah, data dari Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa lebih dari seperempat pengangguran masuk dalam kategori pengangguran jangka panjang. Artinya, mereka mencari pekerjaan selama 27 minggu atau lebih.
Kondisi itu diperkirakan tidak akan membaik dalam waktu dekat bagi banyak warga Amerika yang tidak bekerja. Menurut studi terbaru dari LinkedIn Research, untuk setiap lowongan pekerjaan pada tahun 2026, terdapat pelamar dua kali lebih banyak dibandingkan dengan peran serupa pada tahun 2022. Hal ini berkontribusi pada rasa putus asa yang luar biasa di kalangan pencari kerja.
Efek Lubang Hitam dan Hilangnya Kepercayaan Diri
Mythili Sampathkumar, seorang profesional bidang penulisan dan komunikasi berusia 44 tahun, menghabiskan waktu berbulan-bulan memoles resume dan mengisi formulir. Namun, ia merasa tidak mendapatkan wawancara yang mengarah pada pekerjaan penuh waktu.
“Anda seperti berbicara dengan lubang hitam,” ujarnya. “Anda merasa seperti melayang di ruang angkasa, terlepas dari pesawat induk.”
Amanda Langer, seorang konselor karier yang berbasis di Washington, menjelaskan bahwa dalam pasar kerja saat ini, masalah sering kali tidak berkaitan dengan kualifikasi pelamar. Namun, setiap penolakan atau ketiadaan jawaban sering dianggap sebagai penilaian pribadi terhadap keterampilan dan harga diri seseorang.
“Pencarian kerja yang lama bukan sekadar tantangan logistik,” kata Langer. “Hal itu mengikis kepercayaan diri seseorang dari waktu ke waktu, serta rasa memiliki kendali dan keamanan finansial mereka.”
Kaitan Pengangguran dengan Gangguan Mental
Penelitian menunjukkan bahwa pengangguran berkaitan erat dengan perkembangan gangguan mental, termasuk kecemasan dan depresi. Mindy Shoss, profesor psikologi industri dan organisasi di University of Central Florida, menyebutkan bahwa pencari kerja jangka panjang mengalami stres dan kelelahan yang meningkat.
Faktor-faktor modern seperti postingan lowongan hantu (ghost jobs), pewawancara berbasis AI, dan kurangnya koneksi tatap muka memperburuk keadaan. Shoss menambahkan bahwa identitas diri seseorang sangat dipengaruhi oleh profesi dan cara mereka menghabiskan hari. Melihat resume menghilang begitu saja ke dalam portal perekrutan tidak memberikan umpan balik positif bagi psikologis pelamar.
Catatan Penting: Karena pengangguran jangka panjang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang mendasari, dukungan dari profesional kesehatan mental sangat krusial dan terkadang menjadi kebutuhan wajib.
Langkah Pemulihan dan Dukungan
Untuk mengatasi tekanan ini, Langer menyarankan pembentukan kelompok sebaya (peer group) sesama pencari kerja. Hal ini membantu menormalkan kesulitan yang dihadapi dan memulihkan optimisme.
“Terkadang mendapatkan umpan balik dari orang lain membantu seseorang menyadari bahwa orang yang hebat dan berkualitas pun sedang mengalami masa sulit yang sama,” jelas Langer.
Sebagai langkah adaptasi, Sampathkumar mulai bekerja dengan pelatih karier, meluncurkan buletin pribadi, dan membatasi waktu di media sosial seperti LinkedIn untuk menjaga kesehatan mentalnya. “Tidak ada orang yang bisa disalahkan secara langsung. Ini adalah frustrasi yang aneh. Apa pun yang terjadi, terjadilah,” pungkasnya. (The Washington Post/I-2)
