
Pemanfaatan teknologi dan percepatan hilirisasi industri kelapa sawit tidak boleh hanya dinikmati oleh pelaku industri berskala besar. Pengembangan sektor sawit juga perlu membuka ruang yang lebih luas bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah, meningkatkan daya saing, serta naik kelas dalam rantai industri nasional.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Helmi Muhansyah, mengatakan penguatan sumber daya manusia, adopsi teknologi, serta percepatan hilirisasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas produk UMKM berbasis sawit.
“Teknologi dan hilirisasi industri tidak hanya memberikan manfaat bagi sektor pengolahan skala besar, tetapi juga harus membuka peluang bagi UMKM untuk menghasilkan produk-produk inovatif berbasis kelapa sawit yang memiliki nilai tambah dan daya saing,” ujar Helmi.
Berbagai langkah pun dilakukan BPDP untuk membantu penguatan UMKM di sektor sawit. Hingga Juni 2026, BPDP telah menjalankan 52 program pengembangan UMKM melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari asosiasi petani, perguruan tinggi, kementerian, media, hingga pondok pesantren. Berbagai program tersebut difokuskan pada peningkatan kapasitas pelaku usaha, promosi produk, dan penguatan daya saing agar UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan.
Atas upaya tersebut, BPDP menerima penghargaan Excellence Institution in Empowering Micro, Small, and Medium Palm Oil Enterprises dalam 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026. TPOMI 2026 yang berlangsung pada 8-10 Juli diikuti lebih dari 400 peserta dan menghadirkan sekitar 50 perusahaan serta institusi. Forum ini menjadi wadah kolaborasi pemerintah, akademisi, pelaku industri, praktisi, penyedia teknologi, hingga UMKM untuk membahas inovasi dan tantangan pengembangan industri sawit nasional.
Mengusung tema Updating Technology & Talent Palm Oil Mill and Downstream” dengan subtema “Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045, TPOMI 2026 menghadirkan berbagai sesi konferensi, seminar teknis, diskusi panel, serta pameran teknologi yang menampilkan perkembangan terbaru di sektor pengolahan kelapa sawit. Melalui stan pameran, pengunjung juga memperoleh informasi mengenai berbagai program pengembangan UMKM, peluang hilirisasi komoditas perkebunan, serta potensi pengembangan produk turunan berbasis kelapa sawit, kelapa, dan kakao sebagai sumber nilai tambah baru bagi pelaku usaha.
Selain itu, sejumlah inovasi teknologi turut diperkenalkan, mulai dari digitalisasi industri, otomatisasi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), teknologi efisiensi energi, hingga perangkat lunak yang mendukung operasional pabrik kelapa sawit.
Melalui penguatan kapasitas pelaku usaha, pemanfaatan teknologi, dan percepatan hilirisasi, sektor kelapa sawit diharapkan mampu menghasilkan lebih banyak produk bernilai tambah sekaligus memperbesar kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (Ant/E-3)
