
INDONESIA memiliki peluang besar untuk mendongkrak nilai ekonomi sektor perikanan melalui pengelolaan Benih Bening Lobster (BBL) yang lebih strategis. Fokus pada hilirisasi dan penguatan industri nasional dinilai menjadi kunci agar nilai tambah komoditas ini tidak terus mengalir ke luar negeri.
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Dr. Thomas Nugroho, menyoroti bahwa sebagai salah satu pemasok utama BBL dunia, Indonesia justru belum menikmati keuntungan maksimal. Saat ini, kontribusi ekonomi lobster masih berada di bawah komoditas krustasea lainnya seperti udang dan rajungan.
Berdasarkan data 2024, nilai perdagangan lobster Indonesia berada di angka US$90 juta. Angka ini dinilai masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara pesaing seperti Vietnam yang telah lebih dulu mengoptimalkan industri pembesaran lobster.
Ketimpangan Harga dan Potensi Ekonomi
Dr. Thomas mengungkapkan adanya ketimpangan nilai ekonomi yang mencolok dalam rantai perdagangan BBL. Keuntungan terbesar saat ini justru dinikmati oleh pihak di luar nelayan, terutama pada tahap distribusi dan pembesaran di negara tujuan ekspor.
| Lokasi/Tahapan | Estimasi Harga per Ekor |
|---|---|
| Tingkat Nelayan (Indonesia) | Rp10.000 – Rp15.000 |
| Pasar Vietnam (Rata-rata) | Rp40.000 – Rp70.000 |
| Pasar Vietnam (Riset Tertentu) | Hingga Rp150.000 |
“BBL bukan sekadar sumber daya perikanan, tetapi memiliki nilai ekonomi tinggi yang mampu menciptakan berbagai aktivitas ekonomi mulai dari penangkapan, pengumpulan, logistik, transportasi hingga perdagangan internasional,” ujar Dr. Thomas.
Dengan potensi benih lobster Indonesia yang diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta ekor, nilai ekonomi yang beredar bisa menembus angka Rp9 triliun (asumsi nilai rata-rata Rp40.000 per ekor). Besarnya angka ini menjadikan BBL sebagai komoditas strategis yang memerlukan pengawasan ketat dan regulasi yang tepat.
Menuju Kedaulatan Industri Lobster
Untuk mencegah kebocoran ekonomi dan praktik perburuan rente, Dr. Thomas menekankan pentingnya tata kelola yang transparan. Hal ini mencakup perbaikan sistem perizinan, penguatan pengawasan, hingga integrasi sistem logistik dan koordinasi antarlembaga.
Transformasi dari sekadar eksportir benih menjadi pusat produksi lobster bernilai tinggi merupakan langkah krusial.
“Transformasi dari ekspor benih menuju kedaulatan industri lobster menjadi langkah penting agar nilai tambah, penerimaan negara, dan kesejahteraan nelayan dapat meningkat secara berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui penguatan riset, inovasi teknologi, dan pengembangan industri pembesaran di dalam negeri, Indonesia berpeluang besar memperkuat ekonomi biru. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir secara jangka panjang. (Z-1)
