DEN Pastikan Ekspor Listrik ke Singapura tak Ganggu Pasokan Domestik
Dewan Energi Nasional (DEN) mendukung ekspor listrik ke Singapura.(Dok. Antara)

DEWAN Energi Nasional (DEN) RI menyatakan dukungan terhadap rencana ekspor listrik Indonesia ke Singapura. Anggota DEN RI, Satya Widya Yudha, menegaskan bahwa langkah strategis ini telah melalui komitmen pemerintah untuk tidak mengganggu ketersediaan pasokan listrik bagi kebutuhan domestik.

Satya menjelaskan bahwa listrik yang akan diekspor berasal dari pembangkit baru atau proyek greenfield. Dengan demikian, operasionalnya tidak akan mengambil jatah dari kapasitas listrik yang sudah ada untuk masyarakat Indonesia. Pembangunan proyek ini akan dilakukan secara bertahap dengan kapasitas awal mulai dari 600 MW hingga 1,2 GW.

“Kami mendukung bahwa listrik yang diekspor berasal dari pembangkit baru, sehingga tidak akan mengurangi pasokan untuk kebutuhan dalam negeri. Pembangunan akan dilakukan bertahap,” ujar Satya pada Rabu (8/7).

Selain aspek teknis pasokan, DEN juga menyoroti pentingnya negosiasi harga yang kompetitif. Satya menyebutkan harga listrik di Singapura berada di kisaran US$0,20 per kWh. Ia menekankan bahwa harga ekspor Indonesia harus tetap memperhitungkan biaya produksi di dalam negeri agar memberikan keuntungan dan tidak merugikan negara.

Isu ekspor listrik ini juga menjadi agenda utama dalam pertemuan antara Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Presiden RI di Istana Merdeka pekan ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa meski kerja sama berjalan positif, penentuan harga masih menjadi poin krusial yang sedang difinalisasi.

Bahlil menjelaskan kerja sama ini merupakan bagian dari tiga Nota Kesepahaman (MoU) yang disepakati sejak tahun lalu, meliputi ekspor listrik hijau, pengembangan kawasan industri hijau, serta carbon capture and storage (CCS). Ketiga poin tersebut merupakan satu kesatuan dalam transisi energi kedua negara.

“Terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan kedua pihak. Saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu,” pungkas Bahlil. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *