Harga Telur Anjlok ke Rp17 Ribu, Kementan Ungkap Alasannya
Kementan buka suara soal penurunan harga ayam dan telur.(MI/Naufal Zuhdi)

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) memberikan penjelasan terkait anjloknya harga ayam dan telur di tingkat peternak. Penurunan harga ini disebut terjadi akibat ketidakseimbangan antara ketersediaan stok yang melimpah dengan permintaan pasar yang menurun.

Direktur Jenderal PKH Kementan, Agung Suganda, mengungkapkan bahwa dinamika pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh hukum penawaran dan permintaan (supply and demand). Menurutnya, gangguan pada keseimbangan kedua faktor tersebut menjadi penyebab utama koreksi harga yang cukup dalam.

“Terkait dengan penurunan harga tentu ini terkait suplai dan demand, dan banyak juga penyebabnya. Tetapi keseimbangan suplai dan demand ini yang terganggu, sehingga pada saat suplai kita melimpah demand-nya turun, tentu harganya juga menjadi turun,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (6/7).

Berdasarkan data dari Koperasi Peternakan Unggas Sejahtera (KPUS) pada Kamis (2/7), harga telur ayam di tingkat peternak merosot ke kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Angka tersebut berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.

Agung menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dan terus melakukan berbagai upaya strategis, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang. Langkah ini diambil untuk menjaga agar harga di tingkat peternak tidak jatuh terlalu jauh dari HAP, serta tetap berada di atas Harga Pokok Penjualan (HPP).

Pemerintah mengkhawatirkan jika harga terus berada di bawah HPP, keberlanjutan usaha peternak akan terancam. Kondisi ini pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas produksi nasional di masa mendatang.

“Karena nanti kalau lebih rendah dari HPP seperti sekarang, peternak kita tidak bisa berkelanjutan dan produksi kita juga terancam. Nah ini yang kita harus kita jaga. Jadi banyak faktor penyebabnya dari sisi produksi maupun sisi demand,“ pungkas Agung. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *