
PABRIK di kawasan industri membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Namun, persoalan yang dihadapi bukan hanya mencari pekerja baru, melainkan memastikan mereka mampu bertahan menghadapi disiplin dan tekanan dunia pabrik.
Fenomena pekerja muda yang memilih mengundurkan diri dalam satu hingga tiga bulan pertama menjadi salah satu alasan KEK Industropolis Batang menjalankan Program Resiliensi Industri Masa Depan atau PRIMA.
Program tersebut menyasar 160 siswa SMA dan SMK di Kabupaten Batang. Mereka baru saja menyelesaikan pelatihan selama lima hari yang dirancang untuk membentuk kedisiplinan, ketahanan fisik, karakter, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja industri.
Pelaksana Tugas Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, mengatakan tingginya angka pekerja baru yang keluar dari perusahaan menjadi persoalan yang perlu dijawab sejak calon tenaga kerja masih berada di bangku sekolah.
“Beberapa murid sudah terserap di pabrik, tetapi satu bulan sampai tiga bulan kemudian mereka sudah resign. Turnover-nya tinggi sekali, bisa sampai 30 persen,” kata Indri, Jumat (3/7).
Menurutnya, banyak lulusan sekolah yang sebenarnya telah memiliki keterampilan dasar, tetapi belum siap menghadapi ritme kerja industri. Padahal, perusahaan membutuhkan pekerja yang mampu disiplin, bekerja dalam tim, mengikuti aturan, dan beradaptasi dengan budaya kerja perusahaan.
“PRIMA ini hadir untuk memperkuat karakter mereka. Bukan hanya supaya bisa masuk kerja, tetapi supaya mereka bisa bertahan bekerja di pabrik dengan lingkungan yang multinasional dan global,” ujarnya.
BANGUN KARIR
Indri menegaskan, PRIMA tidak sekadar menyiapkan siswa menjadi pekerja pabrik. Ia menilai pekerjaan di industri dapat menjadi pijakan awal bagi generasi muda untuk membangun karier lebih tinggi.
“Masuk sebagai pekerja itu bukan akhir. Kalau punya karakter, pengalaman, dan mimpi, mereka bisa berkembang menjadi manajer, general manager, pemimpin perusahaan, bahkan entrepreneur,” ujarnya.
Program PRIMA direncanakan berlanjut pada tahun depan. KEK Industropolis Batang berharap pelatihan tersebut dapat menjangkau lebih banyak pelajar, seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di kawasan industri Batang.
“Ini akan terus kami bangun seiring kebutuhan kawasan industri. Kami ingin anak-anak Batang bukan hanya terserap kerja, tetapi juga punya daya tahan dan masa depan,” pungkas Indri.
KEK Industropolis Batang menggandeng delapan tenant atau vendor untuk mendukung program tersebut. Tiga tenant terlibat langsung dalam pelaksanaan pelatihan, sementara peserta dibekali materi mengenai kedisiplinan, pola hidup teratur, ketahanan fisik, hingga pemahaman dasar mengenai budaya kerja industri.
KESAN PESERTA
Salah seorang peserta, Melisa Fitriani, 17, siswi SMK Ma’arif NU 01 Limpung, mengaku pelatihan tersebut mengubah kebiasaan sehari-harinya. “Kalau di rumah kadang kurang disiplin. Setelah ikut program ini, untuk makan dan kedisiplinan saya meningkat pesat. Fisik saya juga lebih baik dari sebelumnya,” tutur Melisa.
Ia mengaku harus melalui seleksi fisik, tes tertulis, serta sejumlah tahapan lain sebelum lolos menjadi peserta. Dari banyak siswa di sekolahnya, hanya sebagian yang bisa mengikuti program tersebut.
Setelah lulus sekolah, Melisa berencana langsung mencari pekerjaan. Meski belum menentukan perusahaan yang dituju, ia merasa pelatihan tersebut memberi gambaran tentang tuntutan yang akan dihadapi ketika masuk dunia kerja.
Peserta lain, Rizki Dimas Pradita, 17, siswa SMK Negeri 1 Blado, menyebut pelatihan PRIMA membuatnya memahami bahwa dunia industri tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. “Materinya tentang kedisiplinan dan tentang bekerja dalam industri,” ujar Rizki
Rizki mengaku harus bersaing dengan sekitar 1.500 peserta lain untuk bisa mengikuti pelatihan tersebut. Ia berharap pengalaman selama lima hari itu membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin. “Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih disiplin,” katanya.
Dukungan juga datang dari keluarga peserta. Evi Sulistiyawati, 34, warga Desa Tegalombo, Kecamatan Tersono, mengaku sempat khawatir melepas anaknya mengikuti pelatihan karena memiliki riwayat gangguan asam lambung.
Meski demikian, ia memilih memberi dukungan agar anaknya berani menjalani proses pembentukan karakter tersebut. “Sebagai orang tua pasti khawatir, tetapi harus tetap memberi semangat. Saya bangga sekali dan mendukung anak saya,” kata Evi. (E-2)
