
Penguatan praktik pertanian berkelanjutan di lahan berlereng menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga produktivitas pangan sekaligus mencegah degradasi lahan. Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Pengabdian Masyarakat bertajuk Penerapan Teknologi Konservasi Tanah-Air dan Biofertilizer Terintegrasi dalam Pemberdayaan Kelompok Tani pada Lahan Terdegradasi untuk Pertanian Berkelanjutan.
Program dilaksanakan di Desa Gunung Rejo, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Kawasan yang berada di lereng pegunungan dan berbatasan langsung dengan Register 19 Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman itu menghadapi berbagai tantangan, mulai dari erosi, limpasan air permukaan, penurunan kesuburan tanah, hingga hasil panen yang belum stabil.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat melalui ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026.
Ketua pelaksana kegiatan, Ansyori, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Satu Nusa Lampung, mengatakan program tersebut dirancang untuk membantu petani mengelola lahan berlereng secara lebih produktif sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Pada lahan berlereng, erosi dapat menghilangkan lapisan tanah atas yang sangat menentukan tingkat kesuburan. Dampaknya bukan hanya menurunkan kemampuan tanah menyimpan air, tetapi juga meningkatkan biaya produksi dan membuat hasil panen menjadi tidak stabil. Karena itu, konservasi tanah-air perlu dipadukan dengan pemanfaatan biofertilizer berbasis bahan lokal,” ujar Ansyori.
Ansyori menjelaskan, rangkaian kegiatan telah dimulai sejak observasi lapangan pada Desember 2025 melalui pemetaan kondisi lahan, identifikasi potensi sumber daya lokal, serta inventarisasi persoalan yang dihadapi petani. Tahapan berikutnya meliputi sosialisasi pada Mei 2026, pelatihan pada akhir Juni 2026, serta implementasi teknologi pada Juli 2026. Setelah itu, program akan dilanjutkan dengan pendampingan, evaluasi, dan upaya menjaga keberlanjutan kegiatan.
Pada tahap pelaksanaan, petani memperoleh pelatihan mengenai berbagai teknik konservasi tanah dan air, seperti pembuatan rorak (silt pit), biopori, pengolahan lahan mengikuti kontur, penggunaan mulsa, hingga penguatan vegetasi penahan erosi. Berbagai teknik tersebut bertujuan memperlambat aliran air permukaan, meningkatkan daya resap tanah, serta mempertahankan lapisan tanah agar tidak mudah terkikis.
Selain itu, petani juga diperkenalkan pada teknologi biofertilizer melalui pembuatan kompos dan pupuk organik cair (POC). Pemanfaatan bahan organik lokal diharapkan mampu menghasilkan pupuk yang ramah lingkungan, mudah diproduksi, serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi program, tim juga menyerahkan sejumlah peralatan, antara lain mesin pencacah, mesin bor biopori, serta berbagai perlengkapan pendukung pembuatan kompos, produksi pupuk organik cair, dan penerapan teknologi konservasi tanah-air di lahan pertanian.
Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Surahno, menilai program tersebut sesuai dengan kebutuhan petani di kawasan Way Ratai yang menghadapi tantangan pengelolaan lahan berlereng.
“Kami berharap kegiatan ini dapat membantu memperbaiki kondisi tanah, mengurangi kerusakan lahan, sekaligus meningkatkan hasil pertanian. Dengan adanya pelatihan dan bantuan peralatan, petani juga menjadi lebih mandiri dalam membuat pupuk organik dan menerapkan teknik konservasi lahan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Way Ratai, Subhan Saputra, menilai keterlibatan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi teknologi tepat guna di kalangan petani. Menurutnya, pengelolaan lahan berlereng memerlukan pendekatan yang tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya tanah dan air.
Selain aspek teknis, program juga mendorong peningkatan kapasitas petani dalam manajemen usaha tani. Peserta didampingi untuk melakukan pencatatan biaya produksi dan hasil panen, menyusun kalender tanam, menghitung kebutuhan input, hingga menerapkan standar sederhana dalam pengelolaan lahan, produksi biofertilizer, serta pemeliharaan sarana konservasi.
Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan lokal. Kegiatan tersebut juga sejalan dengan Asta Cita dalam mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, ekonomi hijau, serta pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Dari sisi pengembangan ilmu pengetahuan, program ini turut mendukung agenda riset terapan dan hilirisasi dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi langsung diterapkan dan didampingi di tingkat petani sehingga berpotensi menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Melalui penerapan teknologi konservasi tanah-air dan biofertilizer secara terintegrasi, lahan pertanian berlereng di Way Ratai diharapkan mampu dikelola secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan. Program tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, penyuluh pertanian, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan yang berawal dari tingkat desa. (E-3)
