
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menilai langkah Presiden ke-7 RI Joko Widodo mendekati tokoh adat dalam sejumlah safari politik berpotensi menjadi strategi untuk mendongkrak elektoral Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurutnya, pendekatan itu bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari upaya meraih dukungan massa melalui para pemimpin informal di daerah.
“Kalau Jokowi membawa panji-panji PSI mendekati tokoh adat, itu sama saja dengan meminta dukungan agar massa pendukung tokoh adat beralih ke partai berlogo gajah tersebut,” kata Jamiluddin dalam keterangannya, Kamis (2/7).
Jamiluddin mencontohkan kedekatan Jokowi dengan tokoh adat terlihat dalam prosesi pemberian gelar adat Lampung di Kedatun Keagungan. Dalam konteks politik Indonesia, kata dia, pendekatan kepada tokoh adat bukan hal baru karena hampir semua partai politik melakukan hal serupa untuk memperluas basis dukungan.
Menurut mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu, tokoh adat merupakan opinion leader yang umumnya memiliki pengaruh kuat di tengah komunitasnya. Karena itu, dukungan tokoh adat dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi partai politik untuk menjangkau massa pemilih dalam jumlah besar.
“Tujuan utama mendekati para opinion leader tentu untuk meningkatkan elektoral PSI. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada karakter massa pendukung tokoh adat itu sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan semacam itu akan lebih efektif bila basis pendukung tokoh adat didominasi kelompok pemilih emosional. Kelompok ini, kata dia, cenderung mudah mengikuti arahan tokoh yang mereka percaya, termasuk dalam menentukan pilihan politik.
“Pemilih emosional relatif lebih mudah diarahkan oleh tokoh adat untuk memilih partai tertentu karena tingkat kepercayaannya tinggi dan tidak terlalu kritis terhadap arahan tersebut,” tutur Jamiluddin.
Sebaliknya, pengaruh tokoh adat dinilai tidak akan terlalu besar terhadap kelompok pemilih rasional. Menurut Jamiluddin, kelompok ini cenderung menilai partai politik berdasarkan pertimbangan program, rekam jejak, dan kepentingan mereka sendiri, bukan semata arahan elite lokal.
“Pemilih rasional tidak akan begitu saja mengikuti arahan tokoh adat. Mereka akan menyeleksi sendiri partai politik yang dianggap layak didukung,” katanya.
Karena itu, Jamiluddin menilai pendekatan kepada tokoh adat tetap menjadi strategi yang relevan dalam politik elektoral Indonesia. Pasalnya, proporsi pemilih emosional dinilai masih lebih besar dibandingkan pemilih rasional.
“Selama pemilih emosional masih dominan, pendekatan terhadap tokoh adat akan tetap dianggap efektif untuk mendongkrak elektoral partai. Kiranya itu pula yang membuat Jokowi mendekati tokoh adat dengan harapan dapat meningkatkan elektoral PSI,” tandasnya. (E-3)
