Dampak Buruk Victim Blaming bagi Korban Kekerasan Menurut Psikolog
Ilustrasi(magnific)

PERILAKU menyalahkan korban atau victim blaming dalam kasus kekerasan menjadi sorotan serius bagi para praktisi kesehatan mental. Psikolog Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, menegaskan bahwa sikap tersebut tidak hanya menyakitkan, tetapi secara nyata dapat memperpanjang trauma yang dialami korban.

Menurut Samanta, dalam praktik psikologi, respons lingkungan yang suportif merupakan salah satu faktor kunci dalam proses pemulihan trauma. Sebaliknya, penghakiman dari masyarakat justru menjadi penghambat utama penyembuhan.

“Victim blaming justru dapat memperpanjang trauma dan menghambat proses penyembuhan,” ujar Samanta yang juga merupakan pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Rabu (2/7).

Mengapa Masyarakat Cenderung Menyalahkan Korban?

Samanta menjelaskan ada beberapa alasan psikologis mengapa fenomena ini kerap terjadi di masyarakat. Salah satunya adalah keyakinan bahwa dunia itu adil (just-world hypothesis), dengan orang cenderung mencari kesalahan korban agar mereka merasa dirinya aman dan percaya hal serupa tidak akan menimpa mereka.

Selain itu, rendahnya literasi mengenai dampak psikologis kekerasan serta kecenderungan melihat peristiwa dari sudut pandang informasi yang terbatas turut memperparah keadaan. Padahal, di balik sebuah kasus, korban sering kali menghadapi ancaman, manipulasi, dan kontrol ketat setiap harinya.

Faktor Penyebab Sulitnya Korban Keluar dari Lingkaran Kekerasan:








Metode Kontrol Pelaku Dampak pada Korban
Intimidasi & Ancaman Ketakutan ekstrem dan kelumpuhan keputusan.
Isolasi Sosial Kehilangan sistem pendukung (support system).
Manipulasi Emosional Merasa bersalah dan bergantung sepenuhnya pada pelaku.
Kontrol Psikologis Kemampuan berpikir jernih dan menilai risiko terganggu.

Luka di Atas Luka

Komentar seperti “kalau saya jadi korban pasti sudah kabur” dinilai sangat menyakitkan. Samanta menyebutkan bahwa penyintas tidak hanya membawa luka fisik atau mental akibat kekerasan, tetapi juga beban rasa bersalah karena dianggap bertanggung jawab atas nasibnya sendiri.

“Akibatnya, penyintas dapat semakin malu, kehilangan kepercayaan diri, enggan mencari bantuan, bahkan memilih diam karena takut kembali dihakimi,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa sulitnya korban melarikan diri adalah bentuk mekanisme bertahan hidup (survival system) dalam kondisi trauma ekstrem, bukan karena mereka tidak ingin selamat.

Pentingnya Empati dan Ruang Aman

Samanta mengajak masyarakat untuk lebih berempati. Berempati bukan berarti mengabaikan proses hukum atau asas praduga tak bersalah, melainkan mengakui bahwa setiap orang yang diduga menjadi korban berhak diperlakukan dengan hormat dan didengar tanpa dihakimi.

Sebelum berkomentar, terutama di media sosial, masyarakat diminta mempertimbangkan apakah opini yang disampaikan akan membantu atau justru memperburuk luka korban. Penilaian sebaiknya tidak didasarkan pada asumsi pribadi atau informasi yang sepotong-sepotong.

“Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang paling cepat menghakimi, melainkan masyarakat yang mampu menghadirkan rasa aman bagi korban untuk berbicara dan mendapatkan pertolongan,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *