
DALAM episode terbaru Piers Morgan Uncensored, Selasa (30/6), dua pakar dengan latar belakang berbeda, Profesor Jiang Xueqin (ahli teori permainan) dan Andrew Bustamante (mantan perwira penyamaran CIA), memberikan analisis tajam mengenai perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Diskusi ini menyoroti apakah perang ini akan berakhir dengan diplomasi atau justru eskalasi militer yang lebih besar.
Prediksi Pasukan Darat: Kebutuhan atau Bencana?
Profesor Jiang mempertahankan prediksinya bahwa Amerika Serikat pada akhirnya akan dipaksa untuk mengirimkan pasukan darat (boots on the ground) ke Iran. Menurutnya, meskipun Donald Trump saat ini tampak ragu, AS tetap terjebak dalam situasi di mana penarikan diri akan memberikan kendali penuh Timur Tengah kepada Iran.
Jiang memprediksi keterlibatan pasukan darat bisa terjadi paling cepat pada Desember atau paling lambat Maret mendatang. Ia berargumen bahwa saat ini AS hanya sedang menunggu waktu karena kondisi cuaca panas di Iran yang tidak memungkinkan untuk invasi darat. “Ada 660.000 tentara Amerika yang siap berangkat. MOU yang ada sekarang hanyalah cara untuk mengulur waktu,” klaim Jiang.
Sebaliknya, Andrew Bustamante tidak setuju dengan pandangan tersebut. Ia menilai Trump hanya mencari kemenangan politik yang cepat dan singkat. Menurut Bustamante, mengirim pasukan darat akan menjadi beban politik, militer, dan legislatif yang terlalu berat bagi administrasi Trump, terutama jika komposisi Kongres berubah setelah pemilu paruh waktu.
Kegagalan Intelijen dan Ketergantungan pada Israel
Bustamante menyoroti hal yang ia sebut sebagai kegagalan intelijen yang mendasar. Ia mengkritik ketergantungan AS pada infrastruktur intelijen Israel dalam menilai situasi di Iran. “Kita masuk ke Iran pada dasarnya mengikuti panduan Israel, mengikuti paket target mereka, alih-alih penilaian intelijen independen kita sendiri,” ujar Bustamante.
Ia mengibaratkan posisi AS seperti anjing pitbull yang dirantai oleh orang lain. Kegagalan prediksi Israel mengenai keruntuhan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dari dalam setelah pembunuhan pemimpin puncaknya menjadi bukti bahwa penilaian tersebut tidak akurat.
Senjata Nuklir vs Kendali Selat Hormuz
Diskusi juga menyentuh ambisi nuklir Iran. Profesor Jiang berpendapat bahwa Iran sebenarnya tidak ingin membangun senjata nuklir karena ada fatwa agama. Namun, ia mengutip pakar MIT yang menyatakan Iran hanya butuh waktu enam minggu untuk membangunnya jika mereka memiliki kemauan.
Namun, Bustamante berargumen bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz jauh lebih efektif daripada pencegah nuklir mana pun. Dengan menguasai jalur yang dilewati 20% energi dunia, Iran mampu menyandera ekonomi global.
“Hanya dengan bertahan hidup, Iran telah menunjukkan bahwa negara kecil bisa menjadi kuat dan Amerika Serikat bisa diatasi, bahkan mungkin dikalahkan,” kata Bustamante.
Proyek Greater Israel dan Masa Depan Kawasan
Profesor Jiang melontarkan pandangan kontroversial mengenai motif di balik tindakan Israel. Ia menduga ada elemen radikal dalam pemerintahan Israel yang ingin mewujudkan proyek Greater Israel yang membentang dari Sungai Nil hingga Efrat. Hal ini, menurutnya, menjelaskan mengapa Israel tampak memicu konflik di berbagai front, termasuk ancaman terhadap Turki dan Mesir.
Piers Morgan menutup diskusi dengan mencatat bahwa popularitas Israel di mata dunia terus menurun akibat pernyataan-pernyataan ekstrem dari anggota kabinet seperti Ben-Gvir dan Smotrich, yang secara terbuka menyerukan tindakan keras di Libanon dan Jalur Gaza tanpa mempedulikan hukum internasional atau proporsionalitas.
Catatan Redaksi: Analisis ini didasarkan pada transkrip debat di program Piers Morgan Uncensored antara Profesor Jiang Xueqin dan Andrew Bustamante. Pandangan yang disampaikan merupakan opini pribadi narasumber berdasarkan pemodelan teori permainan dan pengalaman intelijen lapangan. (I-2)
