
LAYANAN Perlindungan Media Sosial (SMPS) FIFA melaporkan adanya lonjakan masif dan mengerikan terkait aksi perundungan serta pelecehan rasis secara daring selama fase grup turnamen berlangsung. Tidak main-main, sebanyak 89.000 unggahan penuh kebencian terdeteksi.
Angka ini melonjak tajam hingga 13 kali lipat dibanding Piala Dunia 2022 di Qatar yang “hanya” mencatat 6.700 komentar serupa. Meski jumlah pertandingan tahun ini memang lebih banyak (72 laga dibanding 48 laga di Qatar), FIFA menegaskan tren kebencian berbasis rasial ini sudah masuk dalam tahap yang sangat mengkhawatirkan.
Dari total seluruh pelecehan di dunia maya, isu rasisme menyumbang angka 11%. SMPS bahkan menyoroti adanya peningkatan konten-konten ofensif yang masuk kategori “paling buruk dan sangat tidak manusiawi”. Saking parahnya, lebih dari 100 kasus kini sudah disiapkan berkas hukumnya untuk diseret ke jalur pidana.
“Tren data menunjukkan arah pergerakan yang mengkhawatirkan terkait pelecehan yang diperparah oleh isu rasial,” tulis pernyataan resmi SMPS FIFA.
Pemain Belanda Jadi Korban Kebencian
Keganasan netizen rasis ini salah satunya memakan korban trio penggawa tim nasional Belanda. Pasca-gagal mengeksekusi penalti yang membuat De Oranje disingkirkan Maroko di babak 32 besar, Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville langsung dihujani makian rasis di akun media sosial mereka.
Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mengutuk keras serangan diskriminatif yang menimpa para pemainnya tersebut.
Sebagai langkah benteng pertahanan, sistem kecerdasan buatan dan tim internal FIFA dilaporkan telah memindai lebih dari enam juta unggahan. Hasilnya, 181.000 komentar bermuatan kebencian berhasil disembunyikan dari publik, sementara sekitar 1.000 akun media sosial kini sedang diinvestigasi lebih lanjut untuk menerima sanksi berat.
(BBC/P-4)
