
Sporotrikosis, penyakit jamur yang memicu luka kulit serius, telah lama menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Brasil dengan lonjakan kasus yang signifikan selama bertahun-tahun. Selama ini, kucing domestik dianggap sebagai vektor utama penularan kepada manusia. Namun, sebuah survei terbaru terhadap satwa liar mengungkapkan bahwa skala penyebaran penyakit ini jauh lebih luas dan kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.
Tim peneliti di Paraná, Brasil, melakukan studi mendalam dengan menguji DNA pada 81 bangkai hewan korban tabrakan, yang terdiri dari 39 mamalia, 36 burung, dan 6 reptil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga spesies jamur Sporothrix berbahaya ditemukan pada 11 hewan, atau sekitar 13,6 persen dari total sampel.
Infeksi Melalui Aliran Darah
Temuan yang paling mencolok adalah keberadaan jamur pada organ dalam seperti jantung dan hati. Fakta bahwa jamur ini ditemukan di dalam organ yang tertutup rapat—bukan di paru-paru atau permukaan kulit—membuktikan bahwa infeksi telah beredar di dalam tubuh hewan melalui aliran darah. Hal ini mengindikasikan bahwa infeksi bukan sekadar akibat menghirup spora atau kontaminasi lingkungan luar, melainkan infeksi sistemik yang mendalam.
Dari tiga spesies yang diuji, Sporothrix schenckii menjadi yang paling dominan. Namun, para peneliti dikejutkan dengan temuan Sporothrix brasiliensis—penyebab utama sporotrikosis pada kucing di Brasil—pada burung merpati tanah picui dan burung tataupa tinamou.
Mematahkan Teori Kekebalan Burung
Temuan pada spesies burung ini mematahkan teori ilmiah lama yang menyebutkan bahwa burung kebal terhadap jamur patogen karena suhu tubuh mereka yang tinggi, mencapai 42°C. Kemampuan burung untuk bermigrasi dalam jarak jauh kini memicu kekhawatiran baru. Mereka berpotensi menyebarkan jamur berbahaya ini ke wilayah geografis yang lebih luas, sehingga pengendalian penyakit menjadi jauh lebih sulit.
Selain burung, penelitian ini juga mencatat sejarah baru dengan ditemukannya Sporothrix pada ular koral palsu. Ini merupakan kasus pertama reptil diketahui membawa spesies jamur tersebut. Ular tersebut bahkan membawa DNA dari dua spesies Sporothrix yang berbeda secara bersamaan, kemungkinan akibat memangsa hewan yang terinfeksi atau melalui kontak kulit.
Jembatan Penularan ke Area Urban
Infeksi juga ditemukan pada berbagai mamalia lain, termasuk:
- Hewan pengerat agouti yang sering menggali tanah.
- Kelinci Eropa dan opossum telinga putih yang memiliki adaptasi tinggi.
- Kucing macan selatan (southern tiger cat) yang terancam punah, di mana jamur ditemukan menyerang jantungnya.
Spesies-spesies ini sering bergerak di antara habitat hutan dan pemukiman manusia, sehingga berpotensi besar menjadi jembatan penularan dari wilayah liar ke area urban. Secara umum, jamur ini lebih sering terdeteksi di zona transisi—titik pertemuan antara wilayah liar, pedesaan, dan perkotaan—di mana interaksi antara satwa liar dan hewan domestik meningkat akibat menyempitnya batas lingkungan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Mycopathologia ini menyimpulkan bahwa deteksi jamur lebih berkaitan erat dengan tingkat kontak hewan dengan lingkungan domestik dan jenis jalanan, dibandingkan dengan spesies atau status konservasi hewan itu sendiri.
