Arus Pelayaran di Selat Hormuz Mulai Pulih di Tengah Negosiasi AS-Iran
Selat Hormuz(AFP)

ARUS pelayaran komersial melalui Selat Hormuz meningkat signifikan di tengah berlangsungnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran setelah kedua negara mencapai kesepakatan sementara pada pertengahan Juni.

Meski aktivitas pelayaran mulai menunjukkan pemulihan, pelaku industri pelayaran masih bersikap hati-hati karena proses negosiasi antara Washington dan Teheran dinilai masih rapuh dan menyisakan ketidakpastian.

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, rata-rata sekitar 130 kapal komersial melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, aktivitas tersebut sempat merosot tajam setelah pecahnya perang yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan dari Teheran.

Sejak nota kesepahaman sementara mulai berlaku pada 18 Juni, lalu lintas kapal di jalur pelayaran strategis itu mulai kembali meningkat. Kendati demikian, volumenya masih sekitar 70 persen lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum perang.

Data perusahaan analitik maritim Kpler menunjukkan sebanyak 223 kapal komersial melintasi Selat Hormuz sepanjang 15 hingga 21 Juni, atau rata-rata 32 kapal per hari.

Pada periode tersebut, jumlah pelayaran harian terendah tercatat pada 17 Juni dengan 19 kapal, sedangkan angka tertinggi mencapai 54 kapal pada 22 Juni.

Sementara itu, selama periode 22 hingga 28 Juni, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz meningkat menjadi 343 kapal, dengan rata-rata 49 kapal per hari.

Jumlah pelayaran harian terendah tercatat sebanyak 24 kapal pada 28 Juni, sedangkan aktivitas tertinggi terjadi pada 24 Juni dengan 76 kapal melintasi selat tersebut.

Tanggal 24 Juni juga menjadi hari dengan lalu lintas pelayaran tersibuk di Selat Hormuz sejak konflik dimulai pada 28 Februari.

Secara keseluruhan, volume lalu lintas kapal selama pekan 22-28 Juni meningkat hampir 54 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Mayoritas kapal yang melintas merupakan kapal tanker pengangkut minyak mentah dan produk olahan minyak dari Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.

Berdasarkan data yang sama, sedikitnya enam juta barel minyak mentah dikirim melalui Selat Hormuz pada Senin.

Meski lalu lintas mulai pulih, sebagian besar kapal masih memilih berlayar melalui rute yang berada di perairan teritorial Iran. Data tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas pelayaran dilakukan oleh armada bayangan (shadow fleet) dan kapal-kapal yang berada di bawah sanksi internasional.

Peningkatan aktivitas pelayaran ini mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan pelaku industri terhadap keamanan jalur perdagangan energi global, meskipun proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung dan belum menghasilkan kesepakatan permanen. (Anadolu/Fer)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *