
FENOMENA aksi penyekapan yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir memicu perhatian publik. Mulai dari kasus penyekapan di Bandung, penyekapan karyawan di Jakarta Pusat, hingga aksi penyekapan oleh pasangan suami istri di Tasikmalaya menunjukkan pola kejahatan yang tidak biasa jika dibandingkan dengan penganiayaan konvensional.
Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, memaparkan faktor utama yang mendorong pelaku memilih tindakan penyekapan alih-alih sekadar melakukan penganiayaan fisik atau ancaman lisan. Secara umum, tindakan ekstrem ini berakar pada masalah pemuasan kontrol dan dominasi pelaku terhadap korban.
“Teori universalnya bisa dipastikan adalah relasi kuasa yang tidak berimbang. Yang lemah menjadi bulan-bulanan pihak yang kuat,” ujar Reza ketika dihubungi, Selasa (30/6).
Ia mengatakan penyekapan bukan sekadar pembatasan ruang gerak secara fisik. Tindakan memutus komunikasi dan mengisolasi korban secara total dinilai sengaja dilakukan pelaku untuk menyasar sisi psikologis korban.
Melalui metode isolasi ini, pelaku dapat menciptakan ketergantungan penuh, memunculkan rasa ketakutan yang intens, serta meruntuhkan mental korban. Hal ini membuat posisi pelaku menjadi sangat dominan dan memiliki kontrol mutlak atas diri korban.
Meskipun terdapat benang merah berupa ketimpangan relasi kuasa yang ekstrem, Reza mengingatkan aparat penegak hukum dan publik untuk tidak menyamaratakan seluruh kasus yang terjadi. Pengusutan perkara secara mendalam harus tetap dilakukan untuk mencari tahu motif spesifik dari masing-masing peristiwa. “Masing-masing situasi patut dicermati secara independen agar diperoleh kekhasannya satu sama lain,” lanjut Reza. (Faj/P-3)
