
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (29/6) diperkirakan akan mengalami pelemahan terbatas. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan pergerakan Rupiah akan dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).
“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran yang sempit di Rp17.900 – Rp17.950 dipengaruhi oleh faktor global antisipasi rilis data ekonomi AS, terutama data Non-Farm Payroll (NFP),” ujar Rully di Jakarta, Senin.
Fokus utama pelaku pasar tertuju pada data NFP AS yang diprediksi akan berada di angka 114 ribu. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 172 ribu. Meskipun diprediksi menurun, ketidakpastian data tenaga kerja ini tetap memicu sikap hati-hati di pasar valuta asing.
Selain data tenaga kerja, arah kebijakan moneter global turut menjadi beban bagi rupiah. Dalam European Central Bank Forum (ECB), muncul proyeksi bahwa suku bunga bank-bank sentral dunia akan dipertahankan pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).
Kondisi Domestik dan Pembukaan Pasar
Dari dalam negeri, investor masih bersikap wait and see menantikan rilis data neraca perdagangan dan inflasi yang dijadwalkan pada Rabu (1/8). Rully menyebutkan bahwa neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan mencatatkan surplus sebesar 1,18 miliar dolar AS.
Pergerakan Pagi Ini:
Meskipun diprediksi melemah sepanjang hari, pada pembukaan perdagangan Senin pagi, kurs rupiah sempat bergerak menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp17.859 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.922 per dolar AS.
Kombinasi antara surplus perdagangan domestik dan tekanan suku bunga global diperkirakan akan menjaga fluktuasi Rupiah tetap berada dalam rentang yang sempit pada perdagangan awal pekan ini. (E-3)
