
JUMLAH korban yang diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus bertambah. Hingga Sabtu (26/9), tercatat sebanyak 521 orang telah menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas.
Berdasarkan pemantauan, angka ini meningkat dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat sebanyak 498 orang. Para korban berasal dari wilayah Bawang, Kabupaten Batang, dan saat ini tersebar di beberapa titik penanganan medis.
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Batang merinci sebaran pasien yang masih menjalani rawat inap, di antaranya:
- RSUD Kalisari Batang: 66 pasien
- RSUD Limpung: 41 pasien
- Puskesmas Bawang: 23 pasien
- Puskesmas Subah: 11 pasien
- Puskesmas Gringsing: 5 pasien
Sementara itu, sebagian besar korban lainnya diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan. Namun, beberapa pasien dilaporkan harus kembali ke fasilitas kesehatan karena kondisi fisik yang belum pulih sepenuhnya, dengan keluhan mual, muntah, pusing, dan diare.
“Anak saya tadinya sudah dipulangkan, tetapi kemudian di rumah masih merasakan kesakitan jadi dirawat lagi,” ujar salah satu orang tua pasien saat ditemui di Puskesmas Bawang, Sabtu (26/9).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksni, menjelaskan bahwa dari total 521 korban, sebanyak 326 pasien menjalani rawat jalan, 173 orang dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan, dan 23 orang masih dalam perawatan intensif di Puskesmas Bawang.
Ida menambahkan, kondisi pasien secara umum mulai membaik. Pihaknya juga telah menerjunkan tim kesehatan untuk menyisir desa-desa terdampak guna memastikan penanganan menyeluruh. “Mengenai penyebab atau sumber keracunan secara pasti, kami masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel makanan dan muntahan korban,” jelas Ida.
DPRD Rekomendasikan Alat Uji Cepat
Merespons insiden ini, Komisi IV DPRD Batang menggelar rapat evaluasi bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPG se-Kabupaten Batang. Ketua Komisi IV DPRD Batang, Tofani Dwi Arieyanto, mengungkapkan adanya temuan kendala sistematis di lapangan.
“DPRD menemukan sejumlah kendala, seperti penyediaan logistik dapur yang tidak sesuai standar serta lambatnya respons atas laporan pengawas,” ungkap Tofani.
Sebagai langkah preventif, DPRD merekomendasikan pengadaan alat uji cepat (rapid test) di seluruh dapur SPPG. Alat ini bertujuan untuk mendeteksi cemaran bakteri berbahaya pada makanan sebelum dibagikan kepada penerima manfaat.
Selain itu, Tofani menekankan pentingnya penguatan koordinasi antara Korcam, Satgas, dan DPRD agar inspeksi mendadak (sidak) serta tindakan hukum dapat segera dilakukan jika ditemukan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP). Ia berharap pengetatan pengawasan ini menjadikan insiden di Kecamatan Bawang sebagai kejadian terakhir dalam program Makan Bergizi Gratis di Batang. (AS/E-4)
