Tren Kuliner Urban Bergeser, Smoothie hingga Bowl Makin Diminati
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Perubahan gaya hidup masyarakat urban turut mendorong berkembangnya pilihan kuliner yang tidak hanya mengandalkan cita rasa. Makanan dan minuman kini semakin dekat dengan kebutuhan konsumen yang menginginkan pilihan praktis untuk menemani berbagai aktivitas, mulai dari sarapan, makan siang, hingga bersantai bersama keluarga dan teman.

Kondisi tersebut turut membuka ruang bagi berkembangnya konsep kuliner yang menawarkan menu lebih beragam dalam satu tempat. Smoothie, jus, bowl, kopi, hingga makanan ringan jadi bagian dari pilihan yang kian mudah ditemui di tengah mobilitas masyarakat perkotaan.

Tren itu ikut menjadi perhatian Jamba, brand lifestyle global yang dikenal melalui produk smoothie dan bowl. Setelah sebelumnya hadir di Indonesia, Jamba kini kembali dengan konsep yang diperbarui melalui pembukaan gerai di Gandaria City, Jakarta.

Kembalinya Jamba ke pasar Indonesia diprakarsai MRA Group. Kehadiran tersebut membawa konsep baru yang menempatkan smoothie bukan sekadar minuman, tetapi sebagai bagian dari pilihan kuliner untuk berbagai momen sepanjang hari.

Menu yang ditawarkan mencakup Whirl’d Famous Smoothies dalam kategori Classic serta Goodness ‘n Greens. Pilihan tersebut dilengkapi Fresh Juices, Over Ice Beverages, Smoothie Bowls, Coffee & Tea, serta Sandwiches.

Dengan pilihan lebih luas, konsumen dapat menyesuaikan menu dengan kebutuhan dan waktu kunjungan. Smoothie atau jus dapat menjadi pilihan untuk memulai aktivitas, sementara bowl dan sandwich dapat menjadi alternatif ketika membutuhkan menu yang lebih mengenyangkan.

“Kami sangat antusias membawa Jamba kembali ke Indonesia. Saat ini, konsumen tidak hanya mencari makanan dan minuman yang lezat, tetapi juga pilihan yang selaras dengan gaya hidup mereka yang aktif dan dinamis,” ujar General Manager Jamba Indonesia Syanti Dewi, di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Menurutnya, variasi menu yang menggunakan buah asli dan bahan berkualitas dihadirkan agar konsumen memiliki pilihan yang dapat dinikmati pada berbagai kesempatan sepanjang hari.

Kehadiran kembali Jamba juga memperlihatkan bagaimana industri kuliner terus bergerak mengikuti perubahan kebiasaan konsumen. Pengalaman bersantap kini tidak selalu identik dengan makanan berat, tetapi juga mencakup pilihan yang lebih fleksibel, praktis, dan dapat disesuaikan dengan aktivitas.

Didirikan di California pada 1990, Jamba membawa filosofi bahwa setiap orang seharusnya meninggalkan gerainya dengan perasaan yang lebih baik dibanding ketika datang.

Filosofi tersebut diterjemahkan melalui kombinasi menu, suasana gerai, dan pengalaman yang dirancang untuk mendukung berbagai aktivitas harian. Pembukaan gerai di Gandaria City menjadi langkah awal dari kehadiran kembali Jamba di Indonesia. Dengan konsep yang diperbarui dan pilihan menu lebih beragam, brand tersebut menyasar perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan yang kian mencari fleksibilitas dalam menikmati makanan dan minuman. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *