
DAMPAK serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia kini tidak bisa lagi ditutupi. Setelah memicu antrean panjang di SPBU, pembatasan pasokan, hingga kelangkaan bahan bakar di berbagai wilayah, krisis ini akhirnya diakui secara terbuka oleh Presiden Vladimir Putin untuk pertama kalinya.
Dalam pertemuan dengan pejabat senior dan eksekutif minyak, Putin secara blak-blakan mengungkapkan situasi yang tengah dihadapi negaranya.
“Anda tahu betul masalah masih membayangi pengendara maupun pelaku usaha,” kata Putin dalam pertemuan tersebut. “Sayangnya, antrean di SPBU masih terjadi, dan menemukan jenis bensin yang tepat tidak selalu mudah.”
Putin juga menyoroti sektor pertanian yang terdampak, mengingat keberhasilan panen sangat bergantung pada ketepatan jadwal pasokan bahan bakar. Menurut laporan media independen Rusia, Mediazona, saat ini sebanyak 56 wilayah di Rusia tengah memberlakukan pembatasan bahan bakar.
Kondisi paling menonjol terjadi di Crimea, semenanjung yang dicaplok Rusia dari Ukraina pada 2014. Putin mengakui stok bahan bakar di wilayah strategis tersebut hanya tersisa untuk beberapa hari saja. Kendati demikian, dalam wawancara dengan televisi negara Rusia, ia bersikeras bahwa situasi ini belum masuk tahap kritis.
“Serangan Ukraina jelas menimbulkan masalah. Saat ini kita melihat adanya kekurangan tertentu, tetapi itu tidak kritis,” ujar Putin. Ia pun berjanji akan meningkatkan produksi pertahanan udara guna melindungi infrastruktur energi serta mempercepat perbaikan kilang yang rusak.
Sikap terbuka Putin ini tergolong tidak biasa. Pengakuan atas situasi di Crimea dinilai sangat signifikan mengingat nilai simbolis dan strategis wilayah tersebut bagi Kremlin. Putin menuding bahwa serangan jarak jauh Ukraina sengaja dirancang untuk memecah belah masyarakat Rusia dan melemahkan dukungan terhadap perang.
“Kami tidak akan memberikan mereka kesempatan itu,” tegas Putin, sembari menambahkan bahwa serangan Ukraina “sama sekali tidak berdampak pada situasi di garis depan.”
Di sisi lain, otoritas di Kyiv membantah klaim tersebut. Ukraina menyatakan serangan jarak jauh mereka bertujuan memaksa komando militer Rusia mengalihkan sumber daya dari garis depan sekaligus membawa realitas perang ke tengah masyarakat Rusia.
Terkait tawaran perundingan, Putin mengklaim Ukraina sempat menawarkan pembatasan permusuhan untuk memulai dialog. Namun, ia menolak hal itu karena menilai Kyiv hanya mencoba membeli waktu untuk memulihkan pasukannya yang disebutnya telah terkuras habis.
“Sudah jelas mengapa proposal ini diajukan, karena serangan balasan kami jauh ke dalam wilayah Ukraina jauh lebih kuat, memiliki dampak yang lebih besar dan, sejujurnya, lebih merusak. Namun, menyelamatkan rezim Kyiv bukan bagian dari rencana kami,” pungkas Putin. (BBC/Z-2)
