
SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memuji kebangkitan energi terbarukan yang ia sebut “tidak terbendung”. Ia juga mendesak negara-negara di dunia untuk segera menyusun rencana tegas guna menghentikan penggunaan bahan bakar fosil.
Pernyataan tersebut disampaikan Guterres dalam pertemuan iklim terakhirnya di markas besar PBB, New York, menjelang akhir masa jabatannya.
Sehari setelah mengecam industri minyak yang memperlakukan atmosfer layaknya “saluran pembuangan terbuka”, pria berusia 77 tahun itu memberikan nada optimis dalam pidato pembukanya.
“Energi terbarukan adalah sumber listrik baru yang paling murah, paling cepat, dan paling aman hampir di mana saja,” kata Guterres. “Energi bersih telah berubah dari sebuah alternatif menjadi sesuatu yang tidak terbendung.”
Ia menyerukan seluruh negara untuk meningkatkan target pemangkasan emisi dan merilis rencana konkret untuk lepas dari bahan bakar fosil. Seruan ini diperkuat oleh Jerman, negara ekonomi terbesar di Eropa, yang merilis peta jalannya beberapa jam sebelum pidato Guterres. Jerman menjadi negara ketiga yang mengambil langkah tersebut setelah Prancis dan Belanda.
“Kita adalah generasi pertama yang memiliki alat untuk mengakhiri era bahan bakar fosil, dan generasi terakhir yang dapat mencegah bencana iklim,” tegas mantan Perdana Menteri Portugal tersebut.
Guterres menjadikan isu perubahan iklim sebagai fokus utama selama sembilan tahun masa jabatannya yang akan berakhir pada 31 Desember mendatang. Rachel Cleetus dari organisasi nirlaba Union of Concerned Scientists memuji Guterres sebagai “pejuang iklim yang luar biasa” karena konsisten mengangkat suara kelompok paling rentan.
Dampak perubahan iklim kini makin nyata di seluruh dunia, mulai dari gelombang panas dan kebakaran hutan di Eropa hingga banjir bandang di Nepal dan Tibet akibat runtuhnya gletser. Kondisi cuaca ekstrem diperkirakan kian memburuk seiring menguatnya siklus El Nino, sementara suhu bumi berisiko melampaui ambang batas kenaikan 1,5 derajat Celsius.
Langkah Australia dan Sikap Turki Jelang COP31
Dalam forum bertajuk High-level Event on Climate Action and the Just Transition tersebut, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan turut memberikan pernyataan. Kedua negara dijadwalkan menjadi tuan rumah bersama untuk KTT iklim COP31 di Antalya.
“Aksi bukanlah sebuah pilihan. Bagi Australia, sebagaimana bagi kita semua, aksi tersebut dimulai dari rumah,” kata Albanese, seraya mengungkapkan bahwa separuh pasokan listrik jaringan Australia sempat berasal dari energi terbarukan pada puncak musim panas lalu.
Di sisi lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memilih bersikap realistis terkait ambisi yang ingin dicapai pada COP31.
“Setiap usulan yang gagal menyelaraskan tujuan iklim kita dengan realitas sosial dan ekonomi pasti akan gagal,” ujar Erdogan.
Tantangan Lonjakan Kebutuhan Energi
Guterres meminta para pemimpin dunia untuk mempercepat pemulihan ekonomi hijau serta memobilisasi pendanaan iklim bagi negara-negara berkembang. Upaya elektrifikasi juga terus digalakkan. Turki sendiri telah menetapkan target “35×35” untuk meningkatkan porsi listrik dalam konsumsi energi global menjadi 35 persen pada 2035, meskipun belum membatasi bahwa listrik tersebut harus dihasilkan dari sumber terbarukan.
Meskipun kapasitas daya energi terbarukan global tumbuh rekor tahun lalu, pertumbuhannya dinilai belum cukup cepat untuk menggantikan bahan bakar fosil, terutama di tengah melonjaknya permintaan energi dari pusat data AI dan pendingin udara.
Dukungan finansial bagi negara-negara rentan iklim seperti Nepal juga menjadi sorotan. Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal menegaskan bahwa bantuan keuangan bagi negaranya yang terdampak banjir bandang “bukanlah masalah amal, melainkan kewajiban hukum dan moral” dari negara-negara penyumbang emisi. (AFP/Z-2)
