
Implementasi perdagangan karbon yang mulai berjalan pada 2026 diperkirakan menciptakan peluang bisnis baru bagi perusahaan yang bergerak di bidang pengujian, inspeksi, sertifikasi, dan verifikasi. Kebutuhan terhadap layanan validasi dan verifikasi emisi dinilai akan meningkat seiring penerapan standar keberlanjutan di berbagai sektor industri. Melihat potensi tersebut, PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) memperkuat struktur permodalannya melalui aksi private placement dengan menghimpun dana hampir Rp30 miliar dari sejumlah investor strategis, termasuk pengusaha Sandiaga Salahuddin Uno serta perusahaan energi asal Singapura, Interra Resources Limited.
Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan pada 19 Juni 2026, MUTU menerbitkan 309.278.300 saham baru melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) dengan harga pelaksanaan Rp97 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, perseroan memperoleh dana sebesar Rp29,99 miliar. Dalam aksi tersebut, PT Samala Serasi Utama menjadi investor terbesar dengan menyerap 103.092.700 saham, disusul PT Bumi Hijau Sedaya yang mengambil 41.237.100 saham. Interra Resources Limited melalui anak usahanya di Indonesia juga turut berpartisipasi sebagai investor.
Perseroan menilai keterlibatan Interra menunjukkan kepercayaan terhadap pengembangan bisnis keberlanjutan dan energi terbarukan yang tengah dikembangkan MUTU. PT Samala Serasi Utama sendiri merupakan perusahaan investasi milik Sandiaga Salahuddin Uno bersama Roestandi Tsamanov. Selain itu, investor Andreas Tjahjadi dan Leonard Tanubrata kembali berpartisipasi dalam aksi tersebut sebagai bentuk kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
MUTU juga memperoleh dukungan dari Ridzki Kramadibrata, pelaku usaha di bidang climate-tech sekaligus mantan Presiden Grab Indonesia. Kehadirannya dinilai dapat memperkuat pengembangan bisnis verifikasi karbon melalui pengalaman di sektor teknologi dan operasional. Manajemen menegaskan seluruh investor yang mengikuti private placement tidak memiliki hubungan afiliasi dengan pemegang saham pengendali, pemegang saham utama, maupun jajaran direksi dan komisaris.
Direktur Keuangan PT Mutuagung Lestari Tbk, Sumarna, mengatakan tambahan modal dari para investor strategis akan menjadi fondasi untuk mempercepat ekspansi perusahaan.
“Masuknya sejumlah investor berpengalaman memperkuat keyakinan bahwa arah pengembangan bisnis MUTU berada pada jalur yang tepat, sekaligus menjadi modal untuk mempercepat pertumbuhan di sektor yang tengah berkembang,” ujar Sumarna.
Sementara itu, Sandiaga menilai MUTU memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan ekosistem ekonomi hijau melalui layanan sertifikasi, pengujian, dan verifikasi yang dibutuhkan berbagai sektor industri untuk memenuhi standar keberlanjutan. Dana hasil private placement akan dimanfaatkan untuk memperluas kapasitas bisnis, termasuk pengembangan laboratorium halal, layanan Testing, Inspection, Certification, Verification, and Assurance (TICVA), serta mempercepat ekspansi bisnis verifikasi karbon yang diproyeksikan tumbuh seiring berkembangnya pasar karbon nasional.
Prospek tersebut semakin terbuka setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Aturan tersebut mengharuskan setiap pengurangan emisi melalui proses validasi dan verifikasi sebelum diterbitkan menjadi Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK).
Setelah aksi korporasi ini, jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh MUTU meningkat menjadi 3,45 miliar saham. Saham hasil private placement mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 29 Juni 2026, sementara hasil pelaksanaan PMTHMETD dijadwalkan diumumkan perseroan pada 30 Juni 2026. (E-3)
