Operasi jadi Penanganan Utama Tumor Otak, Penundaan Bisa Berakibat Fatal
Dokter spesialis bedah saraf subspesialis bedah saraf neurovaskular RS Pondok Indah Dr. dr. Mardjono Tjahjadi.(Dok. Antara)

PENANGANAN utama untuk penyakit tumor otak adalah melalui tindakan operasi. Hal ini ditegaskan oleh Dokter Spesialis Bedah Saraf Subspesialis Bedah Saraf Neurovaskular RS Pondok Indah, Mardjono Tjahjadi.

Dokter yang akrab disapa Joy ini mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih banyak pasien yang merasa takut saat disarankan menjalani operasi otak. Padahal, menunda tindakan medis pada tumor otak dapat berakibat fatal.

“Jadi kita harapkan dengan teknik yang tepat, operasi otak itu tidak berarti harus kehilangan fungsi. Tumor otak kalau dibiarkan juga akan membunuh maupun membuat buta atau lumpuh,” ujar dr. Joy dalam temu media di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Mengenal Area Eloquent dan Risiko Gangguan Neurologis

Tumor otak didefinisikan sebagai pertumbuhan sel abnormal di dalam atau di sekitar otak yang dapat mengganggu berbagai fungsi kesehatan. Sebagai organ paling kompleks, otak memiliki bagian-bagian spesifik yang disebut sebagai eloquent areas.

Area eloquent merupakan zona penting yang mengendalikan fungsi vital manusia, meliputi:

  • Kemampuan bicara
  • Fungsi motorik (gerakan tubuh)
  • Sistem sensorik
  • Pemahaman informasi
  • Fungsi penglihatan

Jika tumor tumbuh di area ini, tindakan pembedahan konvensional memiliki risiko tinggi menyebabkan kerusakan neurologis permanen pada pasien.

Inovasi Awake Brain Surgery

Guna meminimalkan risiko kerusakan pada area vital tersebut, dunia medis kini menerapkan metode awake brain surgery atau operasi dalam keadaan sadar. Teknik ini memungkinkan tim dokter memantau langsung fungsi-fungsi penting otak selama prosedur pengangkatan tumor berlangsung.

“Pasien akan diberikan anestesi lokal pada kulit kepala dan sekitarnya sehingga tidak merasakan nyeri dan tetap dalam kondisi sadar selama operasi. Dokter akan berinteraksi dengan pasien untuk memastikan area penting otak tetap berfungsi dengan baik,” jelas lulusan spesialis bedah saraf Universitas Padjajaran tersebut.

Dengan metode ini, risiko gangguan bicara, motorik, maupun gangguan neurologis lainnya pasca-operasi dapat ditekan seminimal mungkin, sehingga kualitas hidup pasien setelah pengangkatan tumor tetap terjaga. (AntH-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *