
INVASI Rusia ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022 hingga kini belum berhasil memaksa Kyiv untuk menyerah. Setelah lebih dari empat tahun konflik bersenjata berlangsung, Ukraina justru terus meningkatkan intensitas perlawanannya, termasuk dengan melancarkan serangan balik terhadap infrastruktur strategis jauh di dalam wilayah Rusia.
Serangan berulang yang dilakukan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia dalam beberapa tahun terakhir diakui menimbulkan dampak nyata terhadap pasokan bahan bakar di negara tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa serangan ke infrastruktur energi menyebabkan gangguan terhadap distribusi bahan bakar, meskipun ia mengeklaim kondisi tersebut masih dapat dikendalikan.
“Mengenai serangan terhadap infrastruktur penting secara umum, dan infrastruktur energi khususnya, tentu saja serangan terhadap fasilitas ini menimbulkan masalah, itu jelas,” kata Putin dalam sebuah wawancara yang dilansir AFP, Senin (29/6/2026).
Putin menambahkan bahwa saat ini pihaknya mengamati ada kekurangan tertentu dalam pasokan bahan bakar. Namun ia menegaskan situasi tersebut belum mencapai tahap kritis. Di sisi lain, pemerintah Ukraina menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas energi Rusia merupakan bentuk pembalasan atas agresi Moskow yang terus menargetkan warga sipil dan infrastruktur energi Ukraina sejak awal perang.
Dalam kesempatan yang sama, Putin juga menyatakan harapannya agar delegasi Amerika Serikat dapat kembali ke Moskow untuk membahas peluang mengakhiri perang, terutama saat perhatian Washington terhadap konflik di Timur Tengah mulai menunjukkan penurunan.
Akar Konflik Rusia dan Ukraina
Hubungan antara Rusia dan Ukraina mengalami pergeseran fundamental setelah Ukraina meraih kemerdekaan dari Uni Soviet. Kyiv secara bertahap mempererat hubungan dengan negara-negara Barat dan mulai mengupayakan keanggotaan di NATO, langkah yang dianggap Moskow sebagai ancaman keamanan nasional.
Situasi memuncak pada 2014 ketika demonstrasi besar-besaran di Ukraina menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych yang pro-Moskow. Pemicunya adalah keputusan Yanukovych menolak perjanjian kerja sama dengan Uni Eropa. Pascapergantian pemerintahan, Rusia merespons dengan mengirim pasukan ke Semenanjung Krimea dan mencaplok wilayah strategis tersebut, yang hingga kini masih dikuasai Moskow meski tidak diakui secara internasional.
Dinamika Perang yang Berkepanjangan
Selama empat tahun terakhir, pertempuran berlangsung sengit di berbagai lini. Meski Rusia sempat mencatat kemajuan di sejumlah garis depan pada periode 2023 dan 2024 melalui penguasaan wilayah permukiman, Ukraina mampu memberikan perlawanan signifikan.
Pasukan Kyiv beberapa kali berhasil melancarkan serangan balasan di wilayah timur dan selatan, termasuk operasi militer mengejutkan di kawasan Kursk yang berada di wilayah kedaulatan Rusia. Keberhasilan perlawanan ini tidak lepas dari dukungan politik, ekonomi, dan pasokan persenjataan modern dari negara-negara anggota NATO, termasuk Amerika Serikat.
Kegagalan Mencapai Tujuan Awal
Francois Heisbourg, Penasihat Senior Eropa di International Institute for Strategic Studies, menilai Rusia gagal mewujudkan tujuan utama invasinya, yakni mengambil kendali politik penuh atas Ukraina. Operasi militer yang semula diprediksi berlangsung singkat justru berubah menjadi perang atrisi yang berkepanjangan.
“Tujuan perang yang dinyatakan Ukraina konsisten dengan perang pembebasan dan pertahanan nasional: integritas teritorial, kedaulatan politik, dan jaminan pertahanan,” ujar Heisbourg.
Ia menilai Ukraina memiliki pilihan yang sangat terbatas selain mempertahankan kedaulatan negaranya. Strategi Kyiv yang berfokus pada eksistensi bangsa sebagai negara berdaulat, ditambah dengan tuntutan ganti rugi pasca-perang dan penghukuman kejahatan perang, membuat posisi Ukraina tetap solid di tengah tekanan militer Rusia yang masif. (I-2)
