Jalan Mulus Argentina
Andhika Prasetyo Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)

SEPAK bola tidak hanya berkutat di atas lapangan hijau. Ia juga hidup dalam ruang persepsi. Ketika publik melihat satu tim harus mele­wati jalan yang begitu curam dan terjal, sementara tim lain tampak melaju di jalur yang le­bih landai, pertanyaan tentang keadilan hampir pasti muncul. Itulah yang sedang terjadi pada Piala Dunia 2026.

Begitu fase grup berakhir dan babak gugur terbentuk, perhatian publik langsung tertuju pada komposisi bagan pertandingan. Argentina, sang juara bertahan, berada di bagan sebelah kanan, sisi yang relatif lebih ringan. Lionel Messi dkk, di atas kertas, akan sangat mudah melaju ke dela­pan besar karena didampingi negara-negara seperti Tanjung Verde, Mesir, Australia, Swis, Aljazair, Kolombia, dan Gana. Secara peringkat FIFA dan kualitas pemain, ketimpangan itu tampak begitu kentara.

Sebaliknya, sisi lain bagan dipenuhi nama-nama besar. Jerman, Belanda, Prancis, Por­tugal, Belgia, hingga Spanyol berpotensi saling menghabisi bahkan sebelum mencapai semifinal. Tidak mengherankan jika banyak penggemar sepak bola mulai memper­tanyakan mengapa distri­busi kekuatan bisa terlihat begitu timpang. Media sosial pun segera dipenuhi berbagai spekulasi. Ada yang menuding FIFA sengaja memberikan ‘karpet merah’ bagi Argentina untuk mempertahankan gelar. Ada pula yang mengaitkan­nya dengan nilai komersial, popularitas tim, hingga ke­pentingan bisnis turnamen.

Kecurigaan seperti itu se­benarnya mudah dipahami. Dalam kompetisi sebesar Pi­ala Dunia, persepsi sering kali berkembang lebih cepat dari­pada penjelasan resmi. Ketika melihat ketimpangan secara kasatmata, publik cenderung mencari aktor yang dianggap bertanggung jawab.

Namun, benarkah FIFA mengatur jalur Argentina?

Secara teknis, jawabannya tidak sesederhana itu. Bagan fase gugur Piala Dunia telah ditentukan jauh sebelum kick-off turnamen pertama kali dilakukan. Sejak pengundian grup selesai, FIFA sudah me­netapkan bahwa juara Grup A akan bertemu salah satu peringkat ketiga terbaik, juara Grup B akan menghadapi run­ner-up grup tertentu, dan se­terusnya. Artinya, posisi setiap tim di fase gugur merupakan konsekuensi dari hasil yang mereka raih selama fase grup, bukan hasil penyusunan ulang setelah seluruh peserta lolos.

Dengan sistem tersebut, sa­ngat mungkin terjadi satu sisi bagan dipenuhi negara-negara kuat, sementara sisi lainnya relatif lebih ringan. Fenomena seperti itu bukan hal baru dalam turnamen sepak bola. Bahkan dalam beberapa edisi Piala Du­nia maupun Piala Eropa, distri­busi kekuatan serupa juga per­nah terjadi. Namun, fakta bahwa sistemnya telah ditentukan se­jak awal bukan berarti persoalan persepsi otomatis selesai.

Di era media sosial, publik tidak hanya menilai apakah sebuah kompetisi berjalan se­suai aturan, tetapi juga apakah hasil akhirnya terasa adil. Dua hal tersebut sering kali berbeda.

Ketika lima atau enam kan­didat juara berkumpul di satu sisi bagan, sementara juara bertahan mendapatkan jalur yang secara teori lebih mudah, narasi tentang keberuntungan akan berkembang dengan sendirinya. Apalagi, Argen­tina datang sebagai tim yang dikapteni salah satu greatest of all time, Lionel Messi, yang sering kali dilabeli masyarakat sebagai anak emas FIFA.

Jalan yang tampak lebih lapang tentu semakin mem­perkuat asumsi bahwa mereka memperoleh keuntungan. Pa­dahal, dalam sepak bola, jalur yang terlihat mudah belum tentu benar-benar mudah.

Piala Dunia berulang kali membuktikan bahwa tim-tim yang tidak diunggulkan mam­pu menggagalkan prediksi, begitu juga sebaliknya. Kroasia mencapai final pada 2018, dan Maroko menembus semifi­nal pada 2022. Brasil bahkan pernah kalah dengan skor 1-7 saat menjadi tuan rumah di 2014. Kejutan-kejutan terse­but selalu menjadi bagian dari sejarah turnamen.

Di fase gugur, satu pertan­dingan buruk sudah cukup men­gakhiri perjalanan siapa pun, tanpa memandang nama besar atau kecil lawan. Karena itu, u­kuran mudah atau sulit baru bisa dibuktikan setelah pertandingan benar-benar dimainkan, bukan hanya dari nama negara yang tertulis di bagan.

Yang justru menjadi peker­jaan rumah FIFA ialah menjaga kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi. Di tengah derasnya arus informasi dan teori konspirasi, transparansi mengenai mekanisme penyu­sunan bagan menjadi semakin penting. Bukan lantaran ada bukti manipulasi, melainkan karena persepsi publik dapat memengaruhi kredibilitas tur­namen sebesar apa pun.

Pada akhirnya, Argentina memang tampak memperoleh jalan yang lebih bersahabat menuju babak-babak akhir. Itu adalah fakta yang dapat dilihat siapa saja. Akan tetapi, menyimpulkan bahwa kondi­si tersebut merupakan hasil rekayasa FIFA membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat dari­pada sekadar komposisi bagan.

Di luar itu, yang juga ha­rus diingat ialah sepak bola bukan selalu soal taktik dan skill pemain. Sepak bola juga kerap menyisakan ruang bagi keberuntungan.

Denmark bahkan menjadi juara Piala Eropa 1992 sete­lah awalnya gagal lolos dan baru masuk karena Yugoslavia didiskualifikasi dari kompetisi. Namun, sejarah tidak meng­ingat Denmark sebagai ‘juara keberuntungan’, tetapi sebagai tim yang mampu memanfaat­kan kesempatan.

Kualitas memang bisa mem­bawa sebuah tim mengangkat piala. Namun, terkadang itu diawali oleh keberuntungan yang membuat pintu terbuka.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *