
SEPAK bola tidak hanya berkutat di atas lapangan hijau. Ia juga hidup dalam ruang persepsi. Ketika publik melihat satu tim harus melewati jalan yang begitu curam dan terjal, sementara tim lain tampak melaju di jalur yang lebih landai, pertanyaan tentang keadilan hampir pasti muncul. Itulah yang sedang terjadi pada Piala Dunia 2026.
Begitu fase grup berakhir dan babak gugur terbentuk, perhatian publik langsung tertuju pada komposisi bagan pertandingan. Argentina, sang juara bertahan, berada di bagan sebelah kanan, sisi yang relatif lebih ringan. Lionel Messi dkk, di atas kertas, akan sangat mudah melaju ke delapan besar karena didampingi negara-negara seperti Tanjung Verde, Mesir, Australia, Swis, Aljazair, Kolombia, dan Gana. Secara peringkat FIFA dan kualitas pemain, ketimpangan itu tampak begitu kentara.
Sebaliknya, sisi lain bagan dipenuhi nama-nama besar. Jerman, Belanda, Prancis, Portugal, Belgia, hingga Spanyol berpotensi saling menghabisi bahkan sebelum mencapai semifinal. Tidak mengherankan jika banyak penggemar sepak bola mulai mempertanyakan mengapa distribusi kekuatan bisa terlihat begitu timpang. Media sosial pun segera dipenuhi berbagai spekulasi. Ada yang menuding FIFA sengaja memberikan ‘karpet merah’ bagi Argentina untuk mempertahankan gelar. Ada pula yang mengaitkannya dengan nilai komersial, popularitas tim, hingga kepentingan bisnis turnamen.
Kecurigaan seperti itu sebenarnya mudah dipahami. Dalam kompetisi sebesar Piala Dunia, persepsi sering kali berkembang lebih cepat daripada penjelasan resmi. Ketika melihat ketimpangan secara kasatmata, publik cenderung mencari aktor yang dianggap bertanggung jawab.
Namun, benarkah FIFA mengatur jalur Argentina?
Secara teknis, jawabannya tidak sesederhana itu. Bagan fase gugur Piala Dunia telah ditentukan jauh sebelum kick-off turnamen pertama kali dilakukan. Sejak pengundian grup selesai, FIFA sudah menetapkan bahwa juara Grup A akan bertemu salah satu peringkat ketiga terbaik, juara Grup B akan menghadapi runner-up grup tertentu, dan seterusnya. Artinya, posisi setiap tim di fase gugur merupakan konsekuensi dari hasil yang mereka raih selama fase grup, bukan hasil penyusunan ulang setelah seluruh peserta lolos.
Dengan sistem tersebut, sangat mungkin terjadi satu sisi bagan dipenuhi negara-negara kuat, sementara sisi lainnya relatif lebih ringan. Fenomena seperti itu bukan hal baru dalam turnamen sepak bola. Bahkan dalam beberapa edisi Piala Dunia maupun Piala Eropa, distribusi kekuatan serupa juga pernah terjadi. Namun, fakta bahwa sistemnya telah ditentukan sejak awal bukan berarti persoalan persepsi otomatis selesai.
Di era media sosial, publik tidak hanya menilai apakah sebuah kompetisi berjalan sesuai aturan, tetapi juga apakah hasil akhirnya terasa adil. Dua hal tersebut sering kali berbeda.
Ketika lima atau enam kandidat juara berkumpul di satu sisi bagan, sementara juara bertahan mendapatkan jalur yang secara teori lebih mudah, narasi tentang keberuntungan akan berkembang dengan sendirinya. Apalagi, Argentina datang sebagai tim yang dikapteni salah satu greatest of all time, Lionel Messi, yang sering kali dilabeli masyarakat sebagai anak emas FIFA.
Jalan yang tampak lebih lapang tentu semakin memperkuat asumsi bahwa mereka memperoleh keuntungan. Padahal, dalam sepak bola, jalur yang terlihat mudah belum tentu benar-benar mudah.
Piala Dunia berulang kali membuktikan bahwa tim-tim yang tidak diunggulkan mampu menggagalkan prediksi, begitu juga sebaliknya. Kroasia mencapai final pada 2018, dan Maroko menembus semifinal pada 2022. Brasil bahkan pernah kalah dengan skor 1-7 saat menjadi tuan rumah di 2014. Kejutan-kejutan tersebut selalu menjadi bagian dari sejarah turnamen.
Di fase gugur, satu pertandingan buruk sudah cukup mengakhiri perjalanan siapa pun, tanpa memandang nama besar atau kecil lawan. Karena itu, ukuran mudah atau sulit baru bisa dibuktikan setelah pertandingan benar-benar dimainkan, bukan hanya dari nama negara yang tertulis di bagan.
Yang justru menjadi pekerjaan rumah FIFA ialah menjaga kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi. Di tengah derasnya arus informasi dan teori konspirasi, transparansi mengenai mekanisme penyusunan bagan menjadi semakin penting. Bukan lantaran ada bukti manipulasi, melainkan karena persepsi publik dapat memengaruhi kredibilitas turnamen sebesar apa pun.
Pada akhirnya, Argentina memang tampak memperoleh jalan yang lebih bersahabat menuju babak-babak akhir. Itu adalah fakta yang dapat dilihat siapa saja. Akan tetapi, menyimpulkan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil rekayasa FIFA membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat daripada sekadar komposisi bagan.
Di luar itu, yang juga harus diingat ialah sepak bola bukan selalu soal taktik dan skill pemain. Sepak bola juga kerap menyisakan ruang bagi keberuntungan.
Denmark bahkan menjadi juara Piala Eropa 1992 setelah awalnya gagal lolos dan baru masuk karena Yugoslavia didiskualifikasi dari kompetisi. Namun, sejarah tidak mengingat Denmark sebagai ‘juara keberuntungan’, tetapi sebagai tim yang mampu memanfaatkan kesempatan.
Kualitas memang bisa membawa sebuah tim mengangkat piala. Namun, terkadang itu diawali oleh keberuntungan yang membuat pintu terbuka.
