Gerakan Mahasiswa Syarikat Islam Diminta Padukan Aksi Jalanan dan Penguatan Diplomasi
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PENGURUS Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Sumatera Utara menggelar forum diskusi strategis di Jakarta guna membedah ulang arah gerak organisasi di tengah perubahan dinamika kepemudaan nasional. Forum refleksi tersebut menekankan pentingnya organisasi mahasiswa di bawah naungan Syarikat Islam untuk melakukan reorientasi gerakan dengan mengawinkan militansi lapangan dan kecerdasan taktis hukum.

Ketua Umum PW SEMMI Sumatera Utara sekaligus Calon Ketua Umum Pengurus Besar (PB) SEMMI Se-Indonesia, Ahmad Chalil Gibran, mengajak para kader untuk merefleksikan kembali sejarah emas pergerakan Sarekat Islam (SI) yang dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto.

“Gerakan mahasiswa syarikat Islam hari ini harus mampu mengorkestrasikan seluruh instrumen baik itu diplomasi, jalur hukum, penguatan struktural, maupun aksi massa secara cerdas dan integratif. Kita adalah pewaris sah dari pemikiran intelektual priyayi-santri sekaligus militansi di akar rumput,” ujar Gibran dalam keterangan resminya, Senin (29/6/2026).

Dalam pemaparannya, Gibran mengulas dinamika sejarah tahun 1916 saat Tjokroaminoto memilih jalur diplomatis kooperatif lewat narasi “evolusi, bukan revolusi”. Menurutnya, langkah tersebut bukanlah bentuk kompromi yang oportunis, melainkan strategi perebutan pengaruh (counter-hegemony) yang matang.

Menahan diri dari konfrontasi frontal pada masa awal dinilai sebagai taktik untuk menyelamatkan basis massa serta mengamankan status badan hukum (rechtspersoon) nasional. Berkat perisai legalitas tersebut, SI leluasa berkembang hingga memiliki basis massa masif mencapai 2 hingga 2,5 juta anggota.

Setelah fondasi hukum organisasi kokoh, barulah visi Zelfbestuur (Pemerintahan Sendiri) diluncurkan secara terbuka melalui kritik tajam terhadap kebijakan kolonial. Hal ini menjadi bukti bahwa taktik kooperatif di awal dapat menjadi batu loncatan konstitusional yang kuat untuk menuntut kemerdekaan bangsa.

Berdasarkan refleksi sejarah tersebut, forum diskusi PW SEMMI Sumut menyepakati adanya kebutuhan mendesak untuk mengubah paradigma gerakan mahasiswa di era baru. Model gerakan masa kini dinilai tidak bisa lagi hanya mengandalkan heroisme jalanan tanpa kalkulasi yang presisi.

Arah baru gerakan SEMMI ke depan wajib mengintegrasikan jalur hukum, penguatan struktur kelembagaan, diplomasi tingkat tinggi, serta aksi massa sebagai satu kesatuan strategi yang utuh. Selain itu, paradigma baru ini harus berorientasi pada penguatan kapasitas kader agar mampu terlibat aktif dalam mewarnai panggung sejarah serta perumusan kebijakan publik nasional secara intelektual. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *