
EKONOM dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Benjamin Gunawan, menekankan pentingnya melihat kritik terhadap PT Pertamina (Persero) secara proporsional. Menurutnya, di balik berbagai sorotan yang ada, apresiasi layak diberikan atas peran strategis perusahaan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Gunawan menilai Pertamina telah menjalankan fungsi yang melampaui batasan korporasi komersial pada umumnya. Peran tersebut mencakup penjagaan ketahanan energi, perlindungan daya beli masyarakat, hingga pengendalian tekanan inflasi di tanah air.
“Kita patut berbangga saat Pertamina masuk dalam Fortune Southeast Asia 500. Bahkan di kawasan ASEAN, Pertamina masuk dalam jajaran lima perusahaan terbesar dari sisi pendapatan. Ini menunjukkan peran strategisnya bagi perekonomian nasional maupun kawasan,” ujar Gunawan saat dihubungi, Minggu (28/6/2026).
Instrumen Stabilitas Negara
Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina memegang mandat pemerintah untuk tidak sekadar mengejar profit, tetapi juga menjadi instrumen stabilitas sosial. Gunawan menyebutkan bahwa keberadaan Pertamina sangat krusial dalam mencegah gejolak sosial yang bisa dipicu oleh fluktuasi harga energi global.
Berikut adalah beberapa peran strategis Pertamina bagi fundamental ekonomi nasional berdasarkan pandangan Benjamin Gunawan:
| Aspek Strategis | Dampak Terhadap Ekonomi |
|---|---|
| Ketahanan Pasokan Energi | Menjamin kelancaran aktivitas industri dan konsumsi rumah tangga. |
| Pengendalian Inflasi | Meredam tekanan harga barang dan jasa melalui stabilitas harga BBM. |
| Daya Beli Masyarakat | Menjaga keterjangkauan energi bagi seluruh lapisan masyarakat. |
| Posisi Global | Masuk dalam jajaran 5 besar perusahaan pendapatan tertinggi di ASEAN. |
Tantangan Kemandirian Energi
Mengenai isu pembangunan kilang dan ketergantungan pada impor energi, Gunawan berpendapat bahwa beban tersebut tidak bisa diletakkan sepenuhnya di pundak Pertamina. Diperlukan komitmen kolektif antara pemerintah, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencapai kemandirian energi.
Ia mendorong agar transformasi bisnis dan penyempurnaan tata kelola di internal Pertamina terus dilanjutkan dengan mengedepankan efisiensi serta transparansi. Namun, ia mengingatkan agar fokus utama tidak bergeser dari fondasi pembangunan ekonomi Indonesia.
“Pemerintah dan seluruh stakeholder perlu memberikan dukungan lebih besar. Transformasi organisasi perlu fokus pada efisiensi, namun prioritas utama tetap menjaga ketahanan energi nasional sebagai fondasi pembangunan,” pungkasnya. (Z-1)
