Warga Kemiren Banyuwangi Ubah Budaya Osing Jadi Mesin Ekonomi
Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren Mohammad Edy Saputro(Antara)

Program Desa Sejahtera Astra di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berhasil menggerakkan perekonomian warga dengan mengandalkan model ekonomi berbasis budaya Osing. Alih-alih bergantung pada wisata alam, desa ini mengubah kekayaan tradisi dan budaya menjadi aset dan sumber pendapatan utama.

Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren, Mohammad Edy Saputro, menjelaskan bahwa budaya merupakan aset utama masyarakat untuk menciptakan peluang usaha. Hal ini menjadi solusi kreatif karena desa tersebut tidak memiliki daya tarik wisata alam seperti pegunungan maupun pantai.

“Kami tidak punya gunung, pantai juga tidak punya. Sawah pun tidak ada yang semacam terasering bagus atau semacamnya. Namun kami punya budaya,” kata Edy di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (27/6).

Dari Budaya Menjadi Paket Wisata

Potensi budaya Osing yang kental dikembangkan menjadi berbagai paket wisata yang menarik. Menurut Edy, yang akrab disapa Eday, penawaran tersebut mencakup wisata kuliner, wisata edukasi, paket live in, hingga kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).

Keragaman paket ini membuka pintu peluang usaha yang lebih luas bagi warga. Dalam program live in, misalnya, wisatawan dapat menginap di rumah warga dan merasakan langsung kehidupan sehari-hari masyarakat Osing. Aktivitas yang ditawarkan antara lain memasak kuliner khas, membuat kue kucur, memainkan musik tradisional lesung, membatik, hingga menyangrai kopi secara tradisional.

Sebagai gambaran, desa ini baru saja menerima 157 siswa dari 11 kota untuk program live in selama empat hari. Di hari yang sama, 52 wisatawan lain dari Jakarta juga datang untuk menikmati paket wisata yang mencakup makan siang menu tradisional, pertunjukan musik, hingga edukasi kopi dan batik.

Alternatif Pendapatan di Tengah Ketidakpastian Pertanian

Meskipun mayoritas warga Kemiren masih bekerja sebagai petani padi, pariwisata berbasis budaya kini menjadi sumber pendapatan yang lebih dapat diandalkan.

“Mayoritas petani padi. Masuk di bidang wisata ini sebetulnya salah satu cara yang saat ini relevan dengan keadaan pertanian yang tidak pasti. Pariwisata bisa memberikan cara mendapatkan pendapatan yang lebih mudah dan stabil,” ujar Edy.

Manfaat ekonomi ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang terlibat sebagai pemilik homestay, pelaku UMKM, pemandu wisata, seniman, hingga penyedia jasa kuliner. Sebagian besar dari mereka tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Peran Pendampingan Astra dan Dampak Ekonomi

Pengembangan ekonomi berbasis budaya ini diperkuat melalui Program Desa Sejahtera Astra yang mulai mendampingi Desa Kemiren sejak 2024. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk, Windy Riswantyo, menyatakan program ini merupakan bagian dari kontribusi sosial perusahaan yang telah menjangkau lebih dari 1.500 desa di 35 provinsi.

Hingga Juni 2026, pendampingan di Kemiren telah memberikan dampak signifikan:

  • Menjangkau sekitar 300 warga.
  • Mendukung pengembangan 50 homestay dengan total 92 kamar.
  • Melibatkan 40 pelaku usaha lokal dan 40 anggota Pokdarwis.

Windy menambahkan, program ini berhasil meningkatkan rata-rata pendapatan anggota Pokdarwis sekitar 33%, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Selain itu, pendampingan juga mencakup aspek keberlanjutan seperti pengelolaan sampah, pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik, dan pembangunan dua fasilitas biogas.

Produk Unggulan dan Pengakuan Global

Selain menjual pengalaman, masyarakat Kemiren juga mengembangkan berbagai produk UMKM. Salah satu yang paling terkenal adalah Kopi Kemiren Jaran Goyang, yang dikembangkan sejak 2013. Meski biji kopinya berasal dari Lereng Ijen dan Banyuwangi utara, seluruh proses pengolahan hingga pemasaran dilakukan di Kemiren. Produk ini dipasarkan dengan harga sekitar Rp40.000 per kemasan. Produk lain seperti kue kucur, kue klemben, sale pisang, dan batik juga turut menopang ekonomi desa.

Berkat konsistensinya, Desa Wisata Adat Osing Kemiren secara rutin menerima lebih dari 3.000 kunjungan wisatawan setiap tahunnya dalam periode 2024-2026. Kesuksesan ini juga diganjar berbagai penghargaan bergengsi, antara lain Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), ASEAN Tourism Award 2025, dan terpilih dalam The Best Tourism Village Upgrade Programme 2025 oleh UNWTO. (Ant//E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *