
PENYAKIT diabetes sering kali dijuluki sebagai “ibu” dari berbagai komplikasi mematikan. Salah satu ancaman yang paling berbahaya adalah serangan jantung yang datang tanpa gejala khas atau sering disebut sebagai silent killer.
Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam health talk bertajuk “Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Diabetes” yang diselenggarakan oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia bekerja sama dengan Siloam Hospitals Surabaya di RS Siloam Gubeng.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Prof. Yudi Her Oktaviono, mengungkapkan fakta medis yang mengkhawatirkan: pasien diabetes sering kali tidak merasakan nyeri dada saat terjadi serangan jantung. Kondisi ini disebabkan oleh kadar gula darah tinggi yang berlangsung dalam jangka panjang, sehingga merusak saraf pengirim sinyal nyeri.
“Pasien diabetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala tidak boleh diabaikan, meskipun pasien merasa dirinya sehat,” tegas Prof. Yudi.
Ia menambahkan bahwa diabetes mempercepat proses aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.
Prinsip Pencegahan: The Sooner, The Lower, The Better
Dalam upaya mencegah stroke dan serangan jantung, Prof. Yudi menekankan pentingnya mengelola kolesterol jahat (LDL) sedini mungkin. Prinsip utamanya adalah semakin cepat diturunkan dan semakin rendah kadarnya, maka hasil bagi kesehatan jantung akan semakin baik.
Selain jantung, organ ginjal juga berada dalam ancaman serius yang sering kali tidak disadari. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, menjelaskan bahwa fungsi ginjal dapat menurun drastis tanpa gejala awal yang mencolok.
“Kadar gula darah yang terus tinggi merusak jaringan ginjal secara bertahap, layaknya filter yang aus seiring waktu. Pemeriksaan ginjal harus proaktif, jangan menunggu sampai muncul gejala,” papar Dr. Soebagijo.
Untuk memantau kondisi kesehatan secara menyeluruh, pasien diabetes disarankan melakukan tiga pemeriksaan rutin berikut:
| Jenis Pemeriksaan | Fungsi & Tujuan |
|---|---|
| HbA1c | Melihat rata-rata kendali gula darah dalam jangka panjang (2-3 bulan terakhir). |
| UACR (Urine Albumin-to-Creatinine Ratio) | Mendeteksi kebocoran protein dalam urine sebagai tanda awal kerusakan ginjal. |
| eGFR (Estimated Glomerular Filtration Rate) | Menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah secara keseluruhan. |
Komitmen Layanan Terpadu dan Inovasi Terapi
Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, menyatakan bahwa edukasi bagi pasien diabetes tidak boleh hanya terpaku pada penurunan angka gula darah semata. Diperlukan pendekatan multidisiplin untuk menjaga kualitas hidup pasien secara utuh.
Sejalan dengan hal tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia terus berkomitmen menyediakan solusi terapi inovatif. Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division, Baik In-hyun, menyebutkan bahwa pemahaman dini mengenai hubungan diabetes dan komplikasi adalah kunci pencegahan kerusakan organ permanen.
Saat ini, Daewoong telah menghadirkan pilihan terapi untuk membantu pasien mengelola risiko kesehatan mereka:
- Terapi Dislipidemia: Kombinasi dosis tetap ezetimibe dan rosuvastatin yang diluncurkan November tahun lalu untuk kontrol LDL-C yang ketat.
- Terapi Diabetes Tipe 2: Enavogliflozin 0,3 mg, inovasi mandiri Daewoong yang telah mendapat persetujuan BPOM RI pada Desember tahun lalu dan dijadwalkan meluncur pada semester pertama tahun ini.
Melalui kolaborasi antara institusi medis dan penyedia terapi, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan gula darah, kolesterol, dan fungsi ginjal secara terpadu dapat terus meningkat demi masa depan yang lebih sehat. (Z-1)
