
PEMANFAATAN Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) mulai mengubah wajah pendidikan di Papua, salah satunya di SMA Negeri 2 Jayapura. Teknologi ini membuat mata pelajaran yang dianggap sulit dan abstrak, seperti kimia, menjadi lebih nyata dan menyenangkan bagi para siswa.
Hardianti, guru Kimia SMAN 2 Jayapura, mengungkapkan bahwa PID sangat membantu dalam memvisualisasikan materi yang tidak kasatmata. Melalui Laboratorium Virtual Stoikiometri di platform Rumah Pendidikan, ia menghadirkan animasi untuk menjelaskan konsep-konsep rumit.
“Dengan PID, saya bisa mencari dan menunjukkan animasi yang membantu mereka memahami hal-hal yang sebelumnya sulit dibayangkan,” ujar Hardianti. Ia menambahkan bahwa teknologi ini juga mendorong kolaborasi antar-murid, sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat hanya pada guru.
Pengalaman serupa dirasakan Nelson Mariadu, murid kelas XI SMAN 2 Jayapura. Ia mengaku lebih mudah memahami materi konfigurasi elektron dan bentuk molekul melalui tampilan visual dan permainan edukatif pada papan digital tersebut. Menurutnya, belajar menyetarakan persamaan reaksi kimia kini menjadi pengalaman yang berkesan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat meninjau sekolah tersebut pada Senin (19/10), memberikan apresiasi tinggi. Ia menilai penggunaan PID selaras dengan penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning.
”Upaya tersebut tentunya untuk mendorong proses belajar lebih bermakna, menyenangkan, dan melibatkan murid secara aktif,” tutur Abdul Mu’ti di Jayapura.
Hingga tahun 2026, Kemendikdasmen mencatat telah menyalurkan 2.688 unit IFP ke 1.409 sekolah di Provinsi Papua dengan total anggaran mencapai Rp83 miliar. Khusus untuk Kota Jayapura, sebanyak 410 unit telah didistribusikan ke 144 sekolah dengan nilai anggaran lebih dari Rp12 miliar sebagai bagian dari program Digitalisasi Pembelajaran. (Z-10)
